Lompatan Si Belalang



Demi menguji kehebatan dan pola lompat belalang, sebuah perguruan tinggi mengadakan penelitian dengan menangkap seekor belalang muda yang sehat dan memasukkan ke dalam sebuah kotak berudara, yang di atasnya diberi penutup kaca untuk mengamati ulah si belalang.

Hari pertama, si belalang melakukan lompatan seperti yang biasa dia lakukan di alam terbuka dan…huup, segera kepalanya terantuk kaca penutup. Pada hari yang sama, kegiatan serupa dilakukannya beberapa kali, dan sebagai akibatnya, si belalang merasakan kesakitan pada tubuhnya yang terbentur berkali-kali. Rupanya, pengalaman itu mengajarkan kepada si belalang untuk mengubah pola lompatan, yang tadinya dengan sekuat kemampuannya, sekarang menyesuaikan diri dengan ketinggian penghalang. Selang beberapa hari, tidak terdengar lagi suara benturan badan belalang ke kaca, dari pengamatan si peneliti, si belalang masih melakukan lompatan, tetapi hanya setinggi di bawah kaca penutup dan tidak mengenainya kaca sama sekali.

Setelah si belalang tidak membentur kaca penutup lagi, sang penetili kemudian menurunkan ketinggian penutup kaca. Terjadi pola yang sama. Pada lompatan-lompatan awal, terdengar benturan badan belalang ke penutup kaca berkali-kali. Dan kembali si belalang mengubah pola ketinggian lompatannya untuk menghindari benturan dan kesakitannya. Hingga suatu ketika, setelah beberapa waktu, tidak lagi terdengar benturan badan belalang ke kaca penutup.

Setelah sekian lama, dengan ketinggian kaca penutup yang diturunkan secara berkala, akhirnya ketinggian kaca penutup ditempatkan hingga setinggi tubuh si belalang. Si belalang tidak lagi bisa melompat, dia hanya bisa bergeser dan berputar sekitar tempatnya bernaung. Selama ini, makanan selalu diberikan dengan posisi yang tercukupi. Akibatnya, belalang sibuk makan dan tidak pernah melompat lagi.

Hingga suatu hari. Si peneliti melepas kembali belalang ke ruang dan alam bebas, ternyata si belalang hanya mampu berjalan ke sana kemari. Ia tetap berusaha mencari makan, tetapi tidak lagi dengan melompat sama sekali.

Hidup manusia sebenarnya laksana belalang dalam kisah tersebut. Sebab kita sering kali menghadapi halangan dan tantangan yang kadang membuat kita merasa tidak bisa melompat tinggi. Selain itu kenyamanan yang kita terima setiap hari, malah sering "menjebak" kita dalam zona nyaman yang sulit kita tinggalkan.

Padahal sejatinya, jika menilik masa-masa kecil dahulu, saat kita mulai belajar berjalan, kita semua tidak pernah mengenal rasa takut. Ketika jatuh, meski menangis, tapi segera bangkit dan belajar lagi hingga kita mampu berlari. Sayang, seiring dengan tumbuh kembangnya manusia, kadang ada banyak pengaruh lingkungan yang membuat kita takut, jengah, atau cemas saat menghadapi tantangan. Begitu juga saat "jatuh", kita pun merasa sangat sulit bangkit dan berjalan lagi. Mental block, ketakutan di dalam pikiran sendiri, bahwa "aku tidak bisa", "aku tidak mampu", dan seterusnyalah yang sering menjadikan kita sungguh-sungguh menjadi tidak mampu dan akhirnya menerimanya sebagai "nasib yang sudah ditentukan dari sononya".

Begitu juga saat kita sudah merasa nyaman dengan posisi atau kedudukan kita. Jika kita hanya puas dengan "menikmati" masa itu, tanpa mau belajar dan berusaha mengembangkan diri, maka jangan salahkan jika keberhasilan kita berbatas sampai di situ saja.

Tentu, kita tidak ingin menjadi belalang yang tidak bisa lagi melompat tinggi. Sebab, kita sebagai manusia sebenarnya diciptakan dengan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Keistimewaan kita itulah yang perlu kita pelihara, gali, dan kembangkan. Caranya? Berani terus mencoba mendobrak segala perintang yang menghalang. Jangan terjebak dalam zona nyaman yang melenakan.

Mari, terus gali potensi. Kembangkan semangat juang untuk menang. Maka, kita akan terus bisa melompat tinggi mengapai segala cita-cita. ***

Sumber: adriewongso.com

Tidak ada komentar: