Iman Seorang Bocah



Beberapa kali saya menjadi juri lomba lukis anak-anak, dan saya sering mengantarkan anak-anak kami mengikuti lomba melukis di lapangan. Mengasyikkan. Spontanitas dan kebebasan menuangkan ide yang murni, tidak diikat konvensi dari luar.

Kalau ingin melukis awan berwarna biru, ya biru saja. Kalau mau melukis gunung atau daun berwarna merah, ya merah saja. Kalau dia mau melukis kuda yang leher dan kakinya sama besarnya, ya begitu saja ditorehkannya. Bebas, tanpa basa-basi, tanpa perspektif, tanpa skala. Orang tua hendaknya jangan mencemari kemurnian apresiasinya ini. Sesungguhnya seorang anak menggambar bukan dengan otaknya, melainkan dengan hati dan jiwanya.

Dunia kanak-kanak adalah dunia khayal yang serba berkemungkinan. Cakrawalanya tidak terbatas -- murni, alami. Mereka merasa bahwa alam raya inilah dirinya, dan dirinya adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam raya.

Berbahagialah orang-orang dewasa yang mampu melebur hatinya menjadi seperti hati seorang bocah, dalam memandang dan menggumuli keberadaan Allah, Sang Pencipta. Sesungguhnya Allah tidaklah jauh dari kita, Dia setiap saat siap menolong kita atau menghardik kita jika kita melakukan hal-hal di luar kehendakNYa.

"Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan." (Mazmur 145:18). ***

Tidak ada komentar: