Hati-hati!! Perceraian Tidak Terjadi Dalam Semalam



Mama….kenapa kita sekarang tinggal bersama Kakek dan Nenek? Papa tinggal di mana, Ma? Kasihan ya Papa tinggal sendirian, nggak sama kita lagi. Papa pasti kesepian deh, Ma. Yuk kita tinggal bareng Papa lagi, Adek kangen… deh sama Papa.

Membaca percakapan di atas, tentulah kita sudah bisa membayangkan apa yang merjadi dalam keluarga tersebut. Apalagi kalau bukan perceraian. Angka perceraian di Indonesia mungkin tidak setinggi di Amerika Serikat (66,6% perkawinan berakhir dengan perceraian) ataupun di Inggris (50%), tapi kita tahu bahwa di Indonesia pun banyak perkawinan berakhir dengan perceraian, apalagi kalau melihat berita-berita tentang perceraian selebritis Indonesia akhir-akhir ini.

Fenomena perceraian dalam rumah tangga semakin marak belakangan ini. Perceraian menjadi komoditas yang bernilai tinggi dalam pertarungan media infotainment demi memuaskan pembaca dan pemirsanya sekaligus menambah tebal kocek pundi-pundi dari iklan komersil.

Ruang-ruang keluarga disesaki dengan tayangan suami-istri yang saling menggugat dan dengan pongah menyebut diri mereka teladan sempurna bagi anak-anaknya. Sekarang perceraian bukan lagi sekedar tuntutan skenario dalam sinetron opera sabun. Perceraian sudah menjadi gaya hidup atas nama kebebasan dan demi mengejar popularitas pribadi agar tidak lapuk ditelan jaman. Perceraian menjadi hot news yang ditunggu-tunggu sekaligus menghibur karena jadi gosip afdol yang perlu disebarluaskan.


Perceraian, merupakan suatu hal yang umumnya tak diinginkan, ditakuti dan dihindari untuk terjadi di suatu perkawinan atau rumah tangga; sebuah kata yang cenderung berkonontasi negatif, yang masih dianggap oleh banyak orang sebagai aib, kegagalan bahkan dosa. Seburuk itukah perceraian? Begitu menakutkankah jika hal itu harus terjadi?

Tidak sedikit dari mereka yang mengalami ketidakharmonisan di perkawinannya, dengan alasannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka tetap mempertahankan keutuhan rumah tangganya, walau harus menelan kepahitan, bertopeng kebahagiaan, menyamankan tekanan, menerima ketidakadilan dan melupakan tujuan hidup yang ada pada diri mereka. Mereka menjalankannya seakan-akan “inilah nasibku,” “inilah resiko yang harus aku dijalani atas langkah yang aku ambil.” Sebegitu pasrahkah kita dalam menghadapi hidup ini?

Perceraian seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis.

Menurut Dra Maryam Rudiyanto (dalam Gunarsa, 2006), perceraian yang terjadi antara orang tua paling dirasakan akibatnya oleh anak. Anak-anak ini akan mengalami masalah emosional, penyesuaian diri dan dalam mengekspresikan perasaannya. Dra. Maryam Rudiyanto (dalam Gunarsa, 2006) menambahkan bahwa suasana yang ditimbulkan akibat perceraian akan mempengaruhi rasa aman seorang anak. Anak akan merasakan kurangnya kasih sayang dan perlindungan dari kedua orang tuanya. Padahal, anak masih masih memerlukan ayah dan ibu untuk menemani dan memberi perhatian kepadanya.


DEFINISI

A. Definisi
Dari segi bahasa, perceraian memiliki arti yaitu membuka ikatan, melepaskan ikatan, pembebasan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Sebagai masalah hukum, perceraian adalah menghilangkan ikatan perkawinan.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan tidak memberikan definisi mengenai perceraian secara khusus. Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan serta penjelasannya secara kelas menyatakan bahwa perceraian dapat dilakukan apabila sesuai dengan alasan-alasan yang telah ditentukan. Definisi perceraian di Pengadilan Agama itu, dilihat dari putusnya perkawinan.

Putusnya perkawinan di UUP kan dijelaskan, yaitu:

1. karena kematian
2. karena perceraian
3. karena putusnya pengadilan

Dengan demikian, perceraian merupakan salah satu sebab putusnya perceraian. Selama proses perceraian, pengacara, mediator dan pengadilan akan membantu pasangan dalam membagi harta mereka dan aset, membuat pengaturan perwalian anak, menyiapkan tunjangan bagi anak guna mendukung rencana dan menentukan masa depan anak.

 B. Ciri-Ciri
Ciri-ciri pasangan yang akan melakukan perceraian antara lain adalah sebagai berikut:

1. Setiap pasangan mulai disibukkan dengan aktivitas masing-masing

Setiap pasangan mulai mempunyai kesibukan masing-masing, berupa pekerjaan yang seakan-akan tidak ada habisnya. Hampir keseluruhan energi dihabiskan ditempat kerja. Hampir separuh waktu dihabiskan diluar jam keluarga dan kelelahan setiba dirumah juga digunakan untuk beristirahat sehingga perhatian terhadap keluarga menjadi berkurang.

2. Dimulainya kurang pertemuan di meja makan

Setiap pasangan mempunyai acara sendiri yang menghabiskan banyak waktu di luar rumah, akibatnya pertemuan-pertemuan dengan sesama anggota keluarga menjadi minim. Hal ini terus berlanjut hingga hilangnya kebiasaan-kebiasaan keluarga seperti makan bersama dengan anggota keluarga yang kurang lengkap.

3. Adanya alasan-alasan tertentu yang dipakai menyangkut pekerjaan, kesibukan lainnya yang digunakan untuk mengelak dari pertemuan.

Ketika konflik rumah tangga terjadi, setiap orang berusaha menciptakan alasan tertentu untuk menghindari pertemuan atau kebiasaan keluarga. Sikap yang acuh tersebut mengambarkan bentuk yang kurang peduli akan hubungan itu sendiri. Ego dan ingin menang sendiri membuat pasangan enggan untuk memulai membicarakan masalah yang ada pada hubungan mereka.

4. Semakin kurangnya komunikasi diantara kedua belah pihak

Berkurangnya waktu yang dimiliki oleh keluarga otomatis akan membuat berkurangnya komunikasi. Pada tahap buruk, timbulnya keengganan untuk saling memulai berbicara, permasalahan yang muncul kerap menjadi tabu untuk dibahas oleh kedua belah pihak. Akibatnya setiap pasangan saling berdiam dan menjaga jarak.

5. Keengganan untuk menyelesaikan masalah

Menumpuknya permasalahan keluarga memerlukan pembahasan lebih lanjut. Hal-hal sepele pun bisa menjadi pertengkaran yang hebat, hal ini kemungkinan disebabkan adanya masalah sebelumnya yang belum terselesaikan. Setiap pasangan akan saling menyalahkan dan terjadi keengganan untuk memaafkan kesalahan pasangannya.

6. Pudarnya romantisme dalam keluarga

Romantisme merupakan hal yang penting dalam hubungan cinta kasih setiap pasangan yang menikah. Buruknya tahap ini dimulai keengganan pasangan untuk berbicara ketika hubungan intim selesai dilakukan, setiap pasangan langsung membalikan badan membelakangi pasangannya lalu tertidur. Komunikasi yang dilakukan oleh pasangan selesai berhubungan intim akan meningkatkan romantis dan kualitas dari hubungan tersebut. Hilangnya romantisme juga ditandai dengan berkurangnya aktivitas keluarga yang biasanya sering dilakukan secara bersama-sama.

7. Intensitas hubungan seks yang turun secara drastis.

Menurunnya frekuensi bercinta pada pasangan menikah secara drastis, tidak hanya intensitas, tetapi juga menurunnya kualitas dari hubungan tersebut. Berkurangnya aktivitas-aktivitas menyangkut pemuasan kebutuhan seksual setiap pasangan.

8. Setiap pasangan mulai menghibur diri mereka dengan cara masing-masing.

Setiap pasangan mempunyai cara masing-masing untuk menghibur diri mereka sendiri. Ketika acara keluarga yang seharusnya dihadiri oleh anggota keluarga lengkap tetapi dengan berbagai alasan yang digunakan masing-masing pasangan untuk menghindar dari hubungan itu dan memaksa pasangan untuk melakukan kegiatan tersebut dengan cara mereka sendiri. Kesibukan tersebut juga digunakan sebagai alasan untuk menghindar dari keributan yang terus terjadi dirumah, sehingga pasangan tersebut merasa perlu melakukan aktivitas lain diluar rumah.

9. Hilangnya perhatian yang diberikan oleh setiap anggota keluarga

Beberapa tradisi keluarga yang berangsur hilang, misalnya merayakan ulang tahun salah satu anggota keluarga. Juga ditandai dengan hilangnya perhatian keluarga yang diberikan kepada anak. Banyak waktu yang dihabiskan anak tanpa perhatian orangtua, beberapa aktivitas anak juga dilakukan tanpa melibatkan kedua orangtuanya.

10. Pertengkaran yang terus meningkat, kadang disertai dengan penganiayaan secara fisik

Meningkatnya pertengkaran-pertengkaran yang terus terjadi dalam rumah tangga. Seakan tidak pernah habis, setiap pasangan mulai mencari kelemahan pasangannya untuk digunakan sebagai penyerangan karakter. Pasangan mulai berbicara dengan intonasi tinggi dan ingin didengarkan oleh pasangannya. Pada tahap selanjutnya ditandai dengan kekerasan secara fisik atau bahkan menghancurkan perabot-perabot dalam rumah.

LANDASAN TEORI
A. Peluang untuk Bercerai: Faktor-faktor Sosial dan Demografik
Angka perceraian berbeda pada setiap kelompok dan tergantung pada faktor-faktor seperti usia saat menikah, agama, pekerjaan, penghasilan, pendidikan, etnik, daerah geografis, dan perceraian orangtua. Penyebab perceraian dilihat dalam riset emansipasi wanita ; pernikahan dini; faktor ekonomi; kemiskinan intelektual, pendidikan, dan kemampuan sosial; hukum perceraian liberal; faktor ketidakcocokan seksual; konflik peran; alkoholic dan kecanduan zat; perilaku yang beresiko; perbedaan antara pasangan memicu pertengkaran; faktor agama; sikap terhadap perceraian; dan banyak alasan lainnya.


Berikut adalah beberapa faktor yang memberikan peluang pada terjadinya perceraian:

1. Usia pada saat menikah

Usia pada saat menikah pertama sekali adalah salah satu hal yang paling penting dalam memprediksi kesuksesan pernikahan. Orang yang menikah terlalu muda lebih cenderung bercerai dibanding orang yang menikah di usia yang matang. Martin dan Bumpass menyimpulkan bahwa usia pada saat menikah adalah faktor yang paling menentukan kecenderungan perceraian pada 5 tahun pertama pernikahan. Alkohol dan obat-obatan merupakan hal yang paling banyak menjadi alasan perceraian pada pasangan yang menikah pada usia terlalu muda. Usia pada saat menikah pertama kali telah bertambah sejak 1950an. Penundaan pernikahan ini disebabkan oleh orang-orang menuntut ilmu lebih lama, wanita memasuki dunia kerja dalam jumlah yang lebih besar, dan angka kumpul kebo yang bertambah dengan pesat.

2. Agama
Frekuensi keberadaan agama berhubungan erat dan berbanding terbalik dengan tingkat perceraian. Dapat disimpulkan, bahwa orang-orang yang taat beragama cenderung memiliki kebahagiaan yang lebih besar dalam kehidupan pernikahannya. Ajaran agama dapat menjadi kekuatan bagi pasangan dalam membuat hubungan mereka sukses.


3. Status ekonomi
Status sosioekonomi termasuk pendidikan, penghasilan, dan jabatan. Riset membuktikan bahwa tingkat perceraian pada level sosioekonomi yang rendah lebih tinggi daripada yag memiliki sosioekonomi yang tinggi. Umumnya, mereka memiliki masalah ekonomi yang lebih banyak, dan memiliki waktu kebersamaan yang sedikit sehingga tingkat perceraian lebih tinggi.

Pasangan dengan status sosioekonomi yang rendah biasanya juga bercerai karena alasan yang lain, selaini rendahnya tingkat pendidikan, dan rendahnya penghasilan juga karena problem dalam berperilaku dan juga kecanduan obat-obat.

Resiko dari perceraian meningkat ketika istri-istri berkontribusi antara 40% dan 60% dari jumlah sumber penghasilan keluarga, ketika kebahagiaan pernikahan mejadi rendah. Kesimpulannya, karakteristik individu yang diidentikkan dengan tingginya angka perceraian adalah rendahnya pendidikan, penghasilan rendah, tidak bekerja pada masa awal pernikahan, bekerja penuh waktu, tidak memiliki kehidupan religi, dan tidak memiliki anak atau memiliki anak pada saat memulai pernikahan.

4. Area geografi
Tingkat perceraian di kota besar cenderung lebih tinggi dan lebih rendah di kota kecil atau area pedesaan. Hal ini sebagian dijelaskan oleh tingginya level mobilitas tempat kediaman antara orang yang tinggal di kota besar dengan kota kecil dan pedesaan. Kecepatan perkembangan ekonomi, perubahan demografis( angka kelahiran, angka kematian, proporsi panti jompo), dan tingkat pekerja dapat dikorelasikan dengan angka perceraian. Umumnya, awal pernikahan kemungkinan besar dikacaukan oleh tingginya angka pengangguran, rendahnya penghasilan keluarga, dan tingginya persentasi keluarga yang tinggal dalam kemiskinan.


5. Perceraian orang tua
Penelitian membuktikan bahwa anak yang memiliki orang tua yang bercerai memiliki kecenderungan untuk bercerai dengan pasangannya dibanding dengan anak yang orangtuanya tidak bercerai. Penelitian juga membuktikan bahwa anak dari keluarga yang bercerai memiliki pendidikan yang lebih rendah dan menikah lebih dini. Jika suami istri sama-sama berasal dari keluarga yang bercerai, kemungkinan mereka untuk bercerai akan bertambah. Kemungkinan untuk bercerai akan lebih tinggi apabila suami istri tersebut berasal dari keluarga yang bercerai ketika mereka berusia 12 tahun atau lebih muda. Suami istri dari keluarga bercerai biasanya memiliki masalah dalam dengan kemarahan, kecemburuan, perasaan terluka, komunikasi, ketidaksetiaan,dan lainnya. Sebagai anak, mereka telah melihat perilaku model yang salah dan tidak mempelajari kemampuan dan sikap yang benar dalam membina rumah tangga. Oleh karena itu, mereka cenderung bercerai dan memiliki hubungan intim yang negatif.

6. Ketidakhadiran anak
Salah satu hal yang membuat kemungkinan perceraian menjadi tinggi adalah jika tidak mempunyai anak, kemungkinan karena mereka tidak ada alasan untuk tinggal bersama seperti jika memiliki anak. Kemungkinan bercerai berkurang ketika jumlah anak maksimal adalah empat, tetapi pasangan yang memiliki anak lima atau lebih, kemungkinan perceraian menjadi bertambah. Penelitian lain membuktikan bahwa ketika dalam satu keluarga setidaknya ada satu anak laki-laki, maka ayahnya akan memiliki lebih banyak waktu dengan anak-anaknya. Walaupun sang ayah lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, ibu tetap merasa adil dan bahagia dengan pernikahannya.

B. Penyebab Keretakan Rumah Tangga
Faktor sosial dan demografis mengindikasikan kemungkinan perceraian, tetapi hal itu tidak memperlihatkan penyebab perceraian yang sebenarnya.


1. Persepsi dari pasangan
Penelitian tentang perceraian dan kepuasan pernikahan mengindikasikan dua waktu yang kritis dalam sebuah pernikahan untuk bercerai:

(1) 8 tahun pertama pernikahan,
(2) pertengahan kehidupan, ketika mereka memiliki anak remaja.

Seorang peneliti menemukan bahwa periode tersebut merupakan periode dimana kepuasan pernikahan paling rendah. Goffman dan Levenson mempelajari tentang penyebab perceraian pada dua masa ini. Mereka menemukan perbedaan variabel yang diprediksi sebagai variabel awal dan variabel akhir. Pengaruh negatif selama konflik ( contoh: kritik, jijik, membela diri) ciri perceraian di awal, tetapi hal itu tidak mencirikan perceraian akhir. Jadi, hal ini dapat menjadi kasus dalam pernikahan, dimana ada sifat kritik, jijik dan cenderung merasa benar, jika tidak ada hal positif yang menguranginya maka perceraian tidak dapat dihindarkan. Tanpa hal positif, dalam pernikahan kemungkinan mereka bisa tinggal bersama, tetapi hal kecil saja dapat menyulut kemarahan yang besar, dan akhirnya bercerai.

Memang, menunjukkan pengaruh positif adalah salah satu kunci keberhasilan dalam pernikahan. Gigy dan Kelly menemukan bahwa alasan paling umum untuk bercerai, 80% karena pria dan wanita berjauhan, kehilangan rasa kelekatan, dan merasa kurang dicintai dan dihargai.
Dalam studi yang lain, menyatakan bahwa pasangan yang penuh gairah dan memiliki sikap yang positif dalam menjalani hidup cenderung memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia. Tetapi pasangan yang memiliki sikap moody, emosi yang tidak stabil, dan memiliki sikap negatif cenderung memiliki kebahagiaan pernikahan yang rendah.

Amato dan Prefity menemukan bahwa ketidaksetiaan adalah penyebab terbesar perceraian, penyebab lain adalah jarak yang berjauhan, kepribadian, dan kurangnya komunikasi. Wanita cenderung memberitahukan masalah perilaku suaminya, tetapi pria cenderung menutupi penyebab perceraian tersebut. Pasangan bercerai cenderung menyatakan bahwa mereka bercerai karena kekurangan dari pasangannya, bukan karena diri sendiri.


2. Proses Ketidakpuasan Pernikahan
Ketika pasangan berhenti saling mencintai dan membangun kentiman diantara mereka berdua, mereka mulai menunjukkan akhir dari sebuah pernikahan. Banyak ahli percaya dan setuju bahwa hal yang menyebabkan tingginya tingkat perceraian adalah ketidakrealisan harapan pernikahan.

Ketidakpuasan pernikahan melibatkan kehilangan kasih sayang, penolakan dalam perhatian, pemisahan emosi dan peningkatan keletihan dan pengabaian secara berangsur-angsur. Perasaan positif menggantikan perasaan netral bahkan bisa perasaan negatf. Pasangan suami istri mengatakan bahwa mereka bercerai karena tidak mencintai lagi satu sama lain.

Satu deskripsi yang jelas tentang ketidakpuasan pernikahan dipaparkan oleh Kersten(1990) yang dibagi menjadi 3 fase:

• Fase awal
Ditandai dengan peningkatan, ketidakpuasan, kekecewaan, dan perasaan terluka dan marah.

• Fase tengah
Kemarahan dan luka meningkat secara frekuensi dan intensitasnya.

• Fase akhir

Kemarahan adalah perasaan yang paling sering. Perasaaan menolak mempercayai dan keletihan serta perasaan tidak berdaya meningkat, pikiran yang paling sering selama fase ini adalah menginginkan untuk pernikahan berakhir. ***

dikutip dari: Kita Semua Bersaudara

Tidak ada komentar: