'Arthur Christmas' Dongeng Natal dari Kutub Utara



Suasana Natal sudah merasuki seluruh kota. Pergilah ke mall-mall, dan kau akan disambut dengan pohon cemara raksasa yang menjulang ke angkasa. Ada juga taman buatan, tanpa ketinggalan nuansa salju yang menyelimuti. Tapi semua itu terasa tak lengkap jika belum menonton film bertema Natal. Tahun ini, Hollywood mempersembahkan 'Arthur Christmas'.

Dikemas sebagai animasi komedi yang cocok ditonton seluruh keluarga, karya sutradara Sarah Smith ini berkisah tentang sebuah keluarga Sinterklas yang harus menghadapi perubahan zaman.

Dalam dongeng yang sudah diceritakan secara turun-temurun, sinterklas adalah pembagi hadiah kepada anak-anak di malam Natal. Ia datang dengan kereta salju yang ditarik oleh rusa yang bisa terbang dengan bantuan debu ajaib. Kehadirannya tak pernah diketahui. Anak-anak hanya akan menemukan hadiah itu di bawah pohon Natal ketika mereka bangun di pagi hari, sesuai dengan permintaan mereka.

Film dibuka di sebuah desa di Inggris, ketika seorang gadis cilik mengirimkan surat kepada sinterklas, mempertanyakan pertanyaan abadi: apakah sinterklas benar-benar ada atau hanya dongeng. Dalam surat itu, ia juga meminta hadiah sepeda roda tiga warna pink. Dari sini kita menduga akan mendapatkan film yang sedih, bahkan mungkin muram, dan yang jelas penuh keharuan. 

Tapi, 'Arthur Christmas' ternyata adalah sebuah film yang fun, imajinatif dan penuh petualangan. Surat gadis cilik tadi membawa kita ke sebuah keluarga sinterklas di Kutub Utara. Konon, memang di sinilah sinterklas berasal. Tapi, jangan bayangkan kereta kayu dengan sebarisan rusa. Sang Sinterklas (Jim Braodbent), bersama kedua anaknya, Steve (Hugh Laurie) dan Arthur (James McAvoy) menjalankan "operasi"-nya dengan teknologi tinggi.
Maklum, ini bukan lagi tahun 1800-an. Era kereta kayu terbang telah lewat. Dari Kutub Utara, Keluarga Sinterklas itu membagian hadiah kepada 2 miliar anak sedunia dengan pesawat, dan dengan dukungan ribuan kurcaci mereka menjalankan tugasnya dalam satu malam. Harus dipastikan, tak ada anak yang ketinggalan tak mendapatkan hadiah. Namun, namanya juga teknologi, kesalahan, dengan penyebab yang kadang sepele, selalu saja terjadi. 

Alkisah, satu hadiah terlewat, dan itu tak lain milik gadis cilik yang berkirim surat dari sebuah desa di Inggris tadi. Kehebohan terjadi di Kutub Utara. Bagaimana mungkin? Satu anak akan menangis karena tak ada kado di bawah pohon natalnya di pagi hari! Bisakah hal itu dibayangkan? Para kurcaci mempertanyakan, namun Sinterklas berusaha meredam masalah itu, dan memutuskan untuk menganggap misi telah berhasil seperti biasanya. Hanya satu anak. Dari 2 miliar. Apa artinya?

Tapi, kesalahan "kecil" itu terus mengganggu para kurcaci. Namun, yang paling gelisah sebenarnya Arthur, sebab dialah yang selama ini membaca dan menjawab surat-surat permintaan dari anak-anak seluruh dunia. Maka Arthur pun ngotot, harus menyusulkan satu hadiah yan tertinggal itu. Tapi, bagaimana mungkin? Steve sang kakak, sebagai penanggung jawab Operasi Sinterklas, merasa hal itu tidak mungkin. Malam sudah hampir habis, Natal tinggal beberapa jam lagi. 

Bagaimana Arthur menentang kebijakan ayah dan kakaknya, dan berusaha mengirimkan satu hadiah yang tertinggal itu, menjadi pilar utama plot film ini. Sang Kakek, yang merupakan Sinterklas di zaman sebelum ayah Athur, memahami kegelisahan cucunya, dan datang untuk memberi jawaban. Satu-satunya jalan adalah mengeluarkan kembali kereta kayu dan rusa-rusa penariknya, yang sudah lama dipensiunkan di gudang. Tapi, hah, yang benar saja!

Perjalanan yang tak mudah, namun juga tak membuat mereka menyerah, memberi film ini unsur petualangan yang konyol, seru, lucu tapi juga sedih. Namun, secara umum, tone film ini ingin mengajak anak-anak bergembira. Efeknya memang tak sedalam film-film Natal yang mengharu-biru semisal 'The Polar Express' --untuk menyebut satu contoh saja. 

Namun, sebagai tontonan Natal untuk seluruh keluarga, 'Arthur Christmas' sudah cukup menghibur. Film ini disajikan dalam dua format, 2D dan 3D.




sumber:detik.com

Tidak ada komentar: