Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Wanita yang menyambar bayi dari rumah sakit dijatuhi hukuman 12 tahun penjara


seorang wanita yang menyambar bayi dari New York City rumah sakit lebih dari dua dekade yang lalu dan mengangkat dirinya sebagai sendiri dijatuhi di Manhattan federal sidang sampai 12 tahun penjara Senin.
Ann Pettway, 51, menerima kurang dari hukuman hidup dia menghadapi dan 23 tahun ibu gadis diculik diminta.
White Bapa, Carl Tyson, menyatakan kekecewaan, mengatakan, "Saya tidak benar-benar puas dengan hukuman." Dia menambahkan bahwa Pettway "menempatkan bekas luka pada saya."
Mengiklankan | AdChoices
Pettway mengaku bersalah atas tuduhan penculikan pada bulan Februari.
Selama pengadilan penampilan kemudian, ia menawarkan beberapa rincian dari 1987 penculikan. Dia bilang dia mengambil kereta api dari Connecticut nya rumah ke Harlem rumah sakit, di mana dia meraup berusia 3 minggu Carlina White, yang telah dibawa ke ruang gawat darurat oleh orang tuanya.
"Aku pergi ke rumah sakit. Aku mengambil seorang anak. Itu salah,"katanya kepada pengadilan.
Tapi dia menawarkan penjelasan untuk tindakan.

wanita dipenjara 12 tahun


Sebagai bagian dari Pettway's tawar-menawar, Jaksa dianjurkan bahwa dia dihukum antara 10 dan 12½ tahun penjara.
Carlina's ibu, Joy White, menangis selama proses Februari. "Aku sudah kehilangan 23 tahun menjadi dengan anak saya," katanya, menambahkan bahwa dekade mereka penuh dengan rasa sakit dan sakit hati.
White mengatakan dia mengalami Pettway di rumah sakit pada hari putrinya menghilang, berpakaian seperti seorang perawat. "Dia datang kepada saya dan berkata kepadaku, ' tidak menangis. Putri Anda akan menjadi OK.'"
Kasus ini diselesaikan oleh Carlina sendiri.
Wanita mengaku bersalah dalam kasus penculikan bayi yang baru lahir 1987
Ketika ia dibesarkan di Connecticut di bawah nama lain, gadis menjadi semakin mencurigakan identitas dirinya sendiri. Pettway mengatakan bahwa ia telah diberi pergi oleh pecandu narkoba.
Carlina White mengatakan dia diakses website Pusat Nasional untuk hilang dan dieksploitasi anak-anak untuk petunjuk untuk identitasnya. Setelah pencocokan foto dirinya dengan salah satu di situs, ia melacak ibunya benar dan mereka dipersatukan kembali pada Januari 2011. Tes DNA menegaskan mereka ibu dan anak.
Hari ini, mereka berbicara setiap hari, Joy White mengatakan.
"Aku mencintai anakku. Dia adalah seorang gadis cantik,"katanya, menambahkan bahwa ia telah menyimpan gambar bayi hilang di samping tempat tidur nya selama 23 tahun.

TUJUAN TUHAN MEMBERKATI KITA



“ Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,” Mazmur 67:2

Perihal berkat selalu menjadi menu perbincangan yang menarik di antara anak-anak Tuhan. Siapa yang tidak mau berkat ? Mungkin ada yang berkata, “ Sudah lama aku mengikut Tuhan, kok hidupku belum juga diberkati ?” Nah, apakah kita sudah menyadari sepenuhnya untuk apakah Tuhan melimpahkan berkat-berkatNya kepada umatNya ? Tuhan memberikan berkat kepada kita dengan suatu maksud atau tujuan yang mulia.

1. Supaya kita memiliki rasa takut akan Tuhan. Di dalam 'takut akan Tuhan' tercakup rasa hormat kepadaNya. Juga dengan berkat yang kita terima kita dapat memuliakan nama Tuhan, menaikkan pujian syukur, serta mengasihi Dia lebih lagi. Bukankah hanya karena anugerah dan rahmatNya berkat turun atas kita ?

2. Supaya kita menjadi berkat bagi orang lain sebagaimana Tuhan memberkati Abraham. “ Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.” ( Kejadian 12:2 ). Melalui penebusan Kristus di atas kayu salib setiap orang percaya “...adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” ( Galatia 3:29 ).

Berkat yang kita terima bukan seharusnya 'dikonsumsi' diri sendiri, melainkan harus dibagikan kepada saudara-saudara kita yang sangat membutuhkan uluran tangan kita; untuk itu hati kita perlu dijamah Roh Kudus supaya dari dalamnya memancar kasih Kristus. Tapi di sisi lain, janganlah ada orang yang menggantungkan harapannya kepada manusia, tetapi tetap bersandar dan berharap hanya kepada Tuhan.

3. Supaya Kerajaan Allah diperluas di muka bumi. Pemberitaan Injil ke seluruh dunia sangat membutuhkan banyak dana/biaya. Bahkan di zaman para rasul dulu jemaat Tuhan sudah ikut terlibat dalam pembiayaan perjalanan para hamba Tuhan dalam memberitakan Injil. Contohnya jemaat di Makedonia. Walaupun keadaannya pas-pasan, mereka kaya dalam kemurahan dan turut mengambil bagian dalam pelayanan orang-orang kudus.. Paulus berkata, “ Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan.” ( 2 Korintus 8:5a ).

Berkat dari Tuhan adalah untuk kebesaran dan kemuliaan namaNya saja !



sumber:renungan-harian-kita.blogspot.com

Tidak Pernah Menyerah



Pada tanggal 7 Desember 1998 di bagian utara Armenia, suatu gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter menghancurkan sebuah gedung sekolah diantara bangunan-bangunan lainnya. Di tengah keramaian dan suasana panik, seorang bapak berlari menuju ke sekolah tersebut, dimana anaknya menuntut ilmu setiap harinya. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya itu, “Hai anakku, apapun yang terjadi, papa akan selalu bersamamu!”

Sesampainya di tempat di mana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total! Pertama-tama ia hanya berdiri saja di sana sambil menahan tangis… Namun kemudian…tiba- tiba ia pergi ke bagian sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan hanya menggunakan tangannya sendiri ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk di sana. Ada seseorang yang sempat menegurnya, “Pak, itu tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati.”

Bapak itu menjawab, “Kamu bisa berdiri saja di sana, atau kamu bisa membantu mengangkat batu-batu ini!” Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka capek dan menyerah. Sebaliknya, si bapak tidak bisa berhenti memikirkan anaknya, maka ia menggali terus..

Dua jam telah berlalu, lalu lima jam, sepuluh jam, tigabelas jam, delapan belas jam.

Lalu tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian dari papan itu, dan berteriak, “Armando!”, dan dari kegelapan di bawah itu terdengarlah suara kecil, “Papa!”. Kemudian terdengarlah suara-suara yang lain sementara anak-anak yang selamat itu ikut berteriak!

Semua orang yang ada di sekitar reruntuhan itu, kebanyakan para orang tua dari murid-murid itu, kaget dan bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan mereka. Mereka menemukan 14 anak yang masih hidup itu!

Pada saat Armando sudah selamat, dia membantu untuk menggali dan mengangkat batu-batu sampai teman-temannya sudah diselamatkan semua.. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya itu, “Lihat, aku sudah bilang kan, bahwa papaku pasti akan datang untuk menyelamatkan kita!”

Mari kita renungkan bagaimana kita menjalani hidup kita. Di saat kita dalam kegelapan, tertimpa oleh macam-macam beban masalah, jatuh dalam kelemahan dan dosa. Apakah kita lantas berkeluh kesah, putus harapan, dan lantas mengibarkan bendera putih pada dunia tanda menyerah? Ataukah kita akan bersikap seperti Armando, yang terus menggenggam HARAPAN? bahwa Seseorang sedang mencari kita dan siap menyelamatkan kita? Seseorang yang tak akan pernah menyerah sampai kita sudah di dalam pelukan-Nya?
Yesus sedang mencari kita dan siap menyelamatkan kita dan tidak akan pernah menyerah sampai kita sudah dalam pelukannya.

“…..;seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai Engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” ( Yosua 1:5b ).

SEUMUR HIDUP TAPI SEMENTARA



Kita tak akan menjumpai penderitaan disurga melainkan sukacita yang kekal

1 Korintus 15:42-43 

Ketika Paul Schneider berusia dua tahun, seorang Dokter Specialist berkata bahwa Ia tidak akan dapat berjalan atau berbicara dengan jelas, akibat kelainan otak saat lahir.

(Orangtuanya menyerahkan kedalam tanganNYA)

Paul membuktikan bahwa ahli itu salah. Ia tidak hanya belajar berjalan, tetapi juga berhasil meraih gelar Sarjana dan berbicara didepan umum lebih dari 300 kali.

Didalam hatinya yang paling dalam terdapat Kasih Kristus , pribadi yang menyelamatkannya dari dosa-dosanya dan diberi keberanian untuk tabah menghadapi segala kesulitan yang menghadang. Dan pengharapan didalam Kristuslah yang mengilhami kalimat yang sering ia gunakan untuk melukiskan kelumpuan otaknya: “SEUMUR HIDUP TETAPI SEMENTARA”.

Pandangan Paul Schneider ini didasarkan pada I Korintus 15. Karena Yesus mengalahkan dosa dan maut , serta bangkit dari kematian, Dia menjanjikan suatu “tubuh rohani” yang baru bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Tubuh itu akan bebas dari segala kecemaran karena keberadaan kita saat ini. Tubuh itu merupakan tubuh yang telah diubahkan, dan memiliki kemampuan melampaui segala sesuatu yang kita ketahui (Filipi 3:21)

Pada tahun 1995 Paul Schneider dipanggil oleh Kristus.

Akhirnya ia bebas dari kelumpuan otak. Semua orang Kristen memiliki janji untuk menerima tubuh yang baru pada saat kebangkitan. Kita mungkin memiliki keterbatasan fisik, mental, emosi, atau ketiga tiganya seumur hidup, tetapi semuanya itu hanyalah sementara.- (DJD)
Bila kita mengikutiNya, mau hidup dalam FirmanNya, setiap permohonan kita akan dikabulkan walaupun tidak sesuai kehendak kita tapi kebutuhan kita, dengan kata lain kita tidak dapat yang kita inginkan tetapi yang kita butuhkan pasti terpenuhi walaupun itu semua harus melalui suatu proses. (mungkin kita lupa bahwa DIA menciptakan manusia manusia di Bumi ini melalui suatu proses dan waktu untuk itu kesabaran diperlukan dalam kehidupan kita)
Seorang wanita cantik tidak dapat berjalan karena sejak lahir kakinya lumpuh dan mengecil, DIA menjamahnya sehingga dapat berjalan seperti normal tapi kakinya tetap kecil. Pasti semua orang dapat melihat kemuliaanNYA melalui kakinya dan mungkin sekalian menjaukan wanita tadi dari dosa dunia yang baru. 

Orang dapat melihat kemuliaanNYA pada diri pribadi Paul Schneider, padahal banyak manusia yang lahir dengan Otak dan Fisik yang Prima sebagai berkat yang DIA berikan tapi sayang karena terlalu jauh dari tanganNya sehingga setelah dewasa otaknya Rusak dan Fisiknya hancur sebelum lanjut usia. 

Marilah kita bertobat, memohon pengasihanNYa agar supaya walaupun otak dan fisik kita rusak, tapi jiwa kita masih diselamatkanNya.

Waktu untuk hidup sangat singkat dibandingkan dengan waktu untuk orang yang telah mati. Mari kita selamatkan jiwa kita masing masing karena kehidupan sesudah dalam kematian sangat panjang waktunya dan agar supaya bahagia kelak, mulai sekarang carilah tempat duduk di sisiNYA. Amin

Bahasa Cinta



Seorang pendeta pernah memberi kesaksian yang menarik. Ia bercerita bahwa selama belasan tahun, setiap kali membeli ayam untuk istrinya, ia selalu membelikan bagian dada. Selama masa pacaran, ia melihat istrinya selalu makan bagian dada, sehingga ia beranggapan pastilah istrinya menyukai dada ayam. Setelah belasan tahun berjalan, ketika mereka saling membuka diri satu sama lain, barulah ia tahu bahwa sebenarnya istrinya paling suka bagian paha ayam. Lalu mengapa istrinya dulu selalu memilih bagian dada? Ternyata dada ia pilih karena ia tahu suaminya menyenangi bagian paha. Belasan tahun berjalan, tapi masih juga ada hal-hal yang belum diketahui mengenai pasangan hidup. Ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anda dan saya.

Seringkali kita menganggap bahwa apa yang kita sukai pastilah disukai juga oleh pasangan kita, anak kita, keluarga, teman-teman atau orang lain. Ada banyak ayah yang beranggapan bahwa jika mereka mampu mencukupi kebutuhan materi dari anak-anak atau istrinya, ia sudah menjalankan fungsi sebagai ayah teladan. Padahal mungkin pada banyak kesempatan, anak dan istrinya jauh lebih membutuhkan perhatian dan kehadirannya ketimbang pemenuhan kebutuhan materi. Selama saya mengajar dan berinteraksi dengan banyak orang sepanjang hidup saya, saya sampai pada satu kesimpulan: manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda. Baik dari sifat, tingkah laku, hobi, kegemaran, dan sebagainya. Artinya, apa yang saya suka, belum tentu orang lain suka. Apa yang terbaik bagi saya, belum tentu terbaik bagi orang lain.

Tuhan Yesus mengajarkan demikian: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kemudian di kesempatan lain: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12) dan "Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."(Yohanes 15:17).

Perintah Yesus adalah untuk mengasihi orang lain, seperti Tuhan Yesus sendiri telah mengasihi kita. Bagaimana Yesus mengasihi kita? Tuhan Yesus mengasihi kita secara luar biasa, hingga mengorbankan diriNya untuk mati di atas kayu salib agar kita semua tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Mengasihi sesama seperti bagaimana Yesus mengasihi kita akan membuat kita harus mulai memikirkan untuk mengasihi orang lain sesuai dengan apa yang mereka butuhkan/inginkan, dan kemudian berusaha untuk memberikan tepat seperti itu. Bukan menurut kita, namun menurut mereka. Karena semua orang berbeda kebutuhan/keinginan nya.

Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan sebuah pengertian mendalam mengenai "bahasa kasih" agar kita bisa menjangkau hati orang-orang disekitar kita. Yang saya maksudkan dengan bahasa kasih adalah sesuatu yang kita berikan kepada orang lain yang didasarkan sesuai dengan apa yang mereka harapkan, bukan menurut apa yang kita sukai. Ada 5 hal yang biasanya menjadi "bahasa kasih" bagi orang:

1. Kata-kata pujian

Orang yang memiliki bahasa kasih ini biasanya akan bahagia atau merasa dikasihi jika mereka mendapatkan kata-kata positif, seperti dukungan, pujian, pengakuan dan lain-lain. Jika mereka mendapatkan sebaliknya, seperti cacian, kata kasar, melecehkan dan sebagainya, akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan.

2. Saat Bersama

Jenis ini akan merasa dikasihi jika orang yang mereka sayangi mau meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka, berbincang-bincang dari hati ke hati, jalan-jalan dan sebagainya.

3. Hadiah

Tipe seperti ini akan sangat senang jika mendapat pemberian, meski yang paling sederhana sekalipun.

4. Bantuan

Orang dengan tipe bahasa kasih seperti ini akan sangat bahagia jika orang yang mereka sayangi mau meluangkan waktu untuk membantu mereka, meski sedang sangat sibuk. Itu akan sangat berarti bagi mereka.

5. Sentuhan

Tapping on the shoulder, atau bagi suami-istri atau orang tua pada anak: pelukan, ciuman atau gandengan tangan, bisa berarti yang sangat besar bagi mereka.

Beda orang, beda bahasa kasih. Sudahkah anda mengetahui bahasa kasih dari pasangan anda,anak-anak anda, teman anda, dan orang tua anda? Dalam menggenapkan perintah Kristus untuk mengasihi orang seperti halnya Dia mengasihi kita, kita harus tahu apa yang paling mereka butuhkan, sama seperti Yesus mengetahui betul apa yang paling kita butuhkan. Meskipun segala sesuatu yang kita berikan dengan tujuan baik didasari kasih yang tulus tetaplah baik adanya, ada kalanya curahan kasih kita tidak akan maksimal jika kita salah memberi. Terkadang tanpa mengetahui bahasa kasih dari orang yang kita sayangi, kita bisa gagal dalam menyatakan kasih kita pada mereka. Malah bisa berujung pada pertengkaran, karena kita merasa pemberian kita tidak dihargai, mereka merasa tidak diperhatikan dan lain-lain. Jika Yesus mengasihi kita dengan memberikan yang terbaik buat kita, karena Dia tahu betul apa yang kita butuhkan, ini saatnya kita memberikan yang terbaik pula buat orang-orang yang kita kasihi, dengan mengenal terlebih dahulu apa yang paling mereka butuhkan sesuai dengan bahasa kasih mereka. Mari kenali bahasa kasih masing-masing, dan nyatakanlah kasih dengan maksimal.



Pdt. Andi setiawan

Sejalan Dengan Firman Tuhan



Bilangan 13:30-31 “Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: ‘Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!’ Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: ‘Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.’”

Ketika dua belas pengintai kembali dari mengamati tanah perjanjian, mereka berkata, “Kita tidak akan sanggup melawan orang-orang disana, karena mereka lebih kuat daripada kita.”
Laporan itu yang mereka bawa kembali — setidaknya sepuluh dari mereka berkata demikian.

Dua lainnya, Yosua dan Kaleb, mengatakan ini, “Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.” (Bilangan 14:9).

Mereka semua melihat hal yang sama di tanah Kanaan, melihat kesulitan dan kemustahilan, tetapi hanya Yosua dan Kaleb memilih untuk setuju dan sejalan dengan Tuhan. Sebelumnya Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan memberi mereka kemenangan dan mereka akan mampu mengusir penduduk negeri itu.

Sepuluh pengintai (bersama dengan seluruh Israel) mati tanpa pernah memiliki apa yang telah dijanjikan Tuhan pada mereka.

Hanya dua orang dari generasi tersebut yang masuk ke Kanaan dan mengambil alih tanah perjanjian.
Saya pikir Anda bisa menebak siapa mereka — Yosua dan Kaleb. Hanya dua orang yang setuju dengan deklarasi Allah.

Periksa apa yang telah Anda katakan. Apakah kata-kata Anda setuju dan sejalan dengan firman Tuhan atau tidak?

Hanya orang-orang yang setuju dan sejalan dengan Firman Tuhan akan dapat memiliki semua yang Tuhan telah janjikan. ***

Kebijaksanaan Penggali Tambang



Ada beberapa penggali tambang. Setiap hari mereka bekerja dalam tambang. Karena tambang itu kaya mineral alam, maka sudah beberapa tahun mereka tak pernah pindah tempat kerja. Jadi bisa dibayangkan bahwa semakin digali tambang tersebut semakin dalam. Hari itu mereka berada di dasar terdalam dari tambang itu.

Secara tiba-tiba semua saluran arus listrik dalam tambang itu putus. Lampu-lampu semuanya padam. Gelap gulita meliputi dasar tambang itu, dan dalam sekejap terjadilah hirup pikuk di sana. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri sendiri. Namun mereka sungguh kehilangan arah. Setiap gerakan mereka pasti berakhir dengan benturan dan tabrakan, entah menabrak sesama pekerja atau menabrak dinding tambang. Situasi bertambah buruk disebabkan oleh udara yang semakin panas karena ketiadaan AC.

Setelah capai bergulat dengan kegelapan, mereka semua duduk lesu tanpa harapan. Satu dari para pekerja itu angkat bicara: 'Sebaiknya kita duduk tenang dari pada secara hiruk-pikik mencari jalan keluar. Duduklah secara tenang dan berusahalah untuk merasakan hembusan angin. Karena angin hanya bisa berhembus masuk melalui pintu tambang ini.'

Mereka lalu duduk dalam hening. Saat pertama mereka tak dapat merasakan hembusan angin. Namun perlahan-lahan mereka menjadi semakin peka akan hembusan angin sepoi yang masuk melalui pintu tambang. Dengan mengikuti arah datangnya angin itu, mereka akhirnya dengan selamat keluar dari dasar tambang yang dicekam gelap gulita itu.

Bila batin anda sedang gundah dan kacau, anda tak akan pernah melihat jalan keluar yang tepat. Anda butuh untuk pertama-tama menenangkan diri. Hanya dalam keheningan anda bisa melihat pokok masyalah secara tepat, serta secara tepat pula membuat keputusan.


tarsis sigho - taipei

Menyusun & Merangkai Puzzle



Seorang anak kecil, diberikan puzzle oleh Ibunya. Ibunya berkata kepada anaknya, “Nak, kalau kamu merangkainya dengan benar kamu akan mendapatkan gambar anak panda kesenanganmu. “

Sang anak mulai merangkainya sedikit demi sedikit dan sang ibu melihat disampingnya.

Sang Ibu memberikan nasihat-nasihat kepada anaknya tentang bagaimana merangkai puzzle yang benar. Tetapi dasar sang anak yang bandel, ia seenaknya sendiri menaruh potongan puzzle itu tidak pada tempatnya. Sedikit demi sedikit potongan itu dirangkai dengan seenaknya sendiri. Akhirnya puzzle itu jadi, tetapi terangkai berantakan. Sang anak tidak melihat sedikitpun gambar anak panda pada rangkaian puzzle-nya itu........ Sang anak pun mulai marah kepada ibunya.

Ia berkata dengan kasar, “Ibu bohong, aku sudah lama merangkai puzzle ini yang katanya dapat menjadi gambar anak panda kesayanganku tetapi lihatlah gambar apa ini??”

Sang ibu kemudian membongkar semua potongan puzzle yang dirangkai salah oleh anaknya itu. Saat itu sang anak pun tambah marah kepada ibunya, “Ibu jahat, mengapa ibu menyia-yiakan hasil karyaku.”

Ia kemudian membanting semua potongan puzzle itu ke lantai. Ibunya sangat sedih melihat hal itu. Tetapi ia kemudian mulai membujuk anaknya lagi dengan lembut.

“Nak mari ibu bantu menyusun yang benar.”

Sang anak pun sedikit demi sedikit menuruti ibunya. Memang kadang beberapa potongan dibongkar oleh ibunya dan sang anakpun mulai ngambek, tetapi karena ia mendengarkan nasihat ibunya maka ia pun mulai terhibur dan menyusun potongan-potongan itu sesuai dengan nasihat ibunya. Akhirnya jadilah puzzle itu. Sang anak melihat betapa indahnya gambar anak panda yang diberikan oleh ibunya yang terbentuk saat potongan puzzle terakhir diletakkan.

Akhirnya sang anak memeluk ibunya dan berkata “Terima kasih mama, aku mencintaimu mama.........................”

Teman-teman terkasih..... perjalanan hidup kita itu ibarat kita sedang menyusun sebuah puzzle. Terkadang kita merasa Tuhan membongkar semua rencana kita. Tuhan mengabaikan doa-doa permohonan kita atau kita menemukan diri kita patah hati, sedih, bangkrut, sakit, cacat, dan lain lain. Walaupun kita telah berdoa kepada-Nya terus... tetapi percayalah teman, Tuhan akan membongkar semua jalan yang kita buat jika jalan itu akan membinasakan kita. Ia ingin kita selamat dan bersamanya di Surga. Percayalah bahwa Tuhan akan membantu kita menyusun gambar yang terbaik dalam hidup kita.....kita hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa, dengarkanlah Dia yang membimbingmu selalu....




Source:kasih-yesus-dihidupku.blogspot.com

Seperti Petani Yang Bersabar



“Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan!
Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi” (Yakobus 5:7).

Seorang pemuda Kristen mendatangi pendetanya minta didoakan. “Maukah Pak Pendeta berdoa buat saya agar saya memiliki kesabaran?” Sang pendeta itu mau, lalu mereka sama-sama berlutut. Mulailah bapak pendeta itu berdoa, “Tuhan, kirimkanlah kepada anak muda ini pencobaan pada pagi hari; kirimkanlah pencobaan pada siang hari; kirimkanlah….. “ Seketika itu juga anak muda tersebut berteriak, “Bukan, bukan, saya tidak meminta Pak Pendeta berdoa untuk pencobaan. Aku ingin Bapak berdoa untuk kesabaran buat saya.”

“Oh…..,” kata pendeta itu, “Hanya melalui pencobaan kita belajar tentang kesabaran.”

Berapa berat persoalan yang Anda hadapi tetapi tanpa kesabaran? Berapa banyak di antara Anda mau membayarkan harganya supaya mempunyai kesabaran? Kita minta kesabaran kepada Tuhan, tetapi Anda berdoa seperti ini, “Tuhan, berikan aku hatiyang sabar, tetapi berikanlah SEKARANG ini juga!”

Hanya melalui proses yang disebut persoalan, Tuhan akan membentuk kita menjadi manusia yang sabar.

Yakobus memberikan ilustrasi mengenai hal ini dengan perumpamaan seorang petani yang bersabar menunggu hujan. Ketika petani menanam benihnya, ia tidak langsung menuai dari hasilnya keesokan harinya atau beberapa hari lagi. Ia bersabar sampai hujan turun dan memberikan nutrisi pada tanah itu, lalu beberapa lama kemudian barulah ia menuai hasilnya. Saat panen itulah saat ia menuai dari hasil kesabarannya.

Inti dari pembicaraan ini adalah bersabar hingga kedatangan Tuhan. Anda adalah petani itu. Anda menanam kebaikan, membagikan kasih, dan berkorban, sepertinya tidak ada artinya. Seluruh penderitaan yang Anda alami tidak serta merta menuai hasilnya. Kadang kita harus menunggu sampai Yesus datang untuk mempermuliakan kita. Tetapi ada banyak petani yang akhirnya putus asa lalu menjadi tidak sabar. Mereka kembali lagi kepada cara-cara duniawi yang mempermalukan nama Tuhan.


Renungan:
Percayalah bahwa Yesus pasti datang dan Ia akan memberikan “piagam” kepada mereka yang bersabar. Dan kalau untuk itu Anda harus melalui persoalan, bersabarlah. Hadapi semuanya bersama-sama dengan Yesus, perlahan namun pasti Anda sedang dibentuk Tuhan supaya semakin cemerlang di hadapannya.



sumber:renungan-harian.com

Ketika Anda Ditolak



 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)

Rasanya sulit jika Anda ditolak, terutama bila yang menolak adalah seseorang yang Anda cintai. Mungkin salah satu dari anak-anak Anda, pasangan Anda, atau teman dekat.
Tetapi Alkitab mengatakan Anda perlu mengampuni orang itu karena Allah sudah lebih dulu mengampuni Anda.

Kunci untuk mampu mengampuni orang lain ada dalam ayat hari ini. Kuncinya adalah dengan mengingat apa yang Tuhan sudah lakukan bagi Anda. Bila Anda ingat apa yang Yesus Kristus lakukan untuk Anda, maka Anda memiliki kekuatan untuk memaafkan orang lain.

Jika Anda berpegang pada rasa sakit, maka itu hanya akan berakhir dengan menyakiti diri Anda sendiri. Bila Anda tidak mengampuni orang lain, Anda menciptakan kepahitan dan kemarahan dalam diri Anda. Ini akan menggerogoti Anda dari dalam dan menguras energi Anda, membuat Anda lelah sepanjang waktu. Setiap kali Anda mulai merasa kepahitan terhadap seseorang, ingatlah apa yang Yesus lalukan di kayu salib, bagaimana Dia mengasihi Anda dan Dia rela untuk memberikan nyawa-Nya sehingga dosa-dosa Anda dapat diampuni. Dia ditolak dan dihina saat Dia tergantung di sana, tapi Dia melihat semua orang dan berdoa, “Bapa, ampunilah mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan” (Lukas 23:34)

Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda. Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda. Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)

Definisi pengampunan ditemukan dalam dua kata dalam ayat itu: “menyerahkannya kepada Dia.” Anda membiarkan Tuhan bekerja dan membuat hal-hal menjadi benar. Pengampunan bukan tentang mempercayai orang itu lagi atau melupakan segala sesuatu yang terjadi. Ini tentang menempatkan situasi di tangan Tuhan, bukan mencari kesempatan untuk balas dendam atau menyimpan dendam. Dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati yang lengkap, Yesus memberikan nyawa-Nya karena Dia mencintai Anda.

Dia tidak memikirkan diri-Nya sendiri, Dia sedang memikirkan Anda.
Petrus berkata, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” (1 Petrus 2:23)

MEMPERSIAPKAN HARI ESOK DENGAN MENJADIKAN HIDUP HARI INI BERMAKNA



Saya pernah mengingat nasehat papa, “Jika engkau merencanakan hidup untuk satu dua hari ke depan, tanamlah toge. Jika engkau merencanakan hidupmu untuk dua tiga bulan ke depan, tanamlah jagung. Jika engkau merencanakan hidupmu tiga atau empat tahun ke depan, tanamlah mangga. Jika engkau merencanakan hidupmu puluhan tahun ke depan, tanamlah pohon jati. Dan jika engkau menginginkan hidupmu kekal dan bahagia, tanamlah kebajikan! Namun, jika engkau tidak menanam apa-apa, jangan mengharapkan menuai kebajikan! Pay now, play later or play now pay later!”

Kenyataan kehidupan yang kita alami dan terima hari ini adalah akibat serentetan apa yang kita lakukan kemarin dan hari-hari sebelumnya. Demikian pula apa yang akan kita tuai di masa mendatang adalah buah dari apa yang ditabur hari ini. Setiap orang beragama paham betul bahwa apa yang dilakukan hari ini membawa konsekwensi penghakiman di masa kemudian. Bagi umat Kristiani, umumnya hari penghakiman itu terjadi mana kala Yesus datang kembali. Kedatangan-Nya kembali seringkali disalah mengerti, yakni untuk misi penyelamatan lagi. Padahal setiap kebaktian Minggu kita mengucapkan pengakuan iman yang antara lain isinya, “….dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati!”

Keyakinan akan hari penghakiman atau Hari Tuhan membuat banyak orang untuk mengambil sikap. Beberapa sikap atau respon diperlihatkan pada bacaan kita hari ini. Respon pertama diperlihatkan oleh bangsa Israel pada jaman Amos. Umumnya mereka berpikir bahwa ritual ibadah yang mereka lakukan akan menjadi jaminan bahwa Tuhan akan berpihak kepada mereka pada saatnya. Hari Tuhan akan mengangkat derajat mereka. Mereka berpikir bahwa Tuhan sama seperti manusia yang suka disuap. Ibadah dan persembahan yang mereka berikan kepada Tuhan adalah kesempatan untuk menyuap Tuhan. Celakanya orang-orang yang menganggap diri sebagai nabi mendukung tindakan seperti ini. Apakah Tuhan menerima? Jelas tidak! Tuhan membenci bahkan menghinakan ibadah dan persembahan seperti itu! (Amos 5:21-23).

Tuhan menolak ibadah yang bersolek kemunafikan. Mereka beribadah dan mempersembahkan korban-korban namun mereka menindas dan menyengsarakan orang miskin. Mereka menjual orang benar karena uang, menginjak-injak orang lemah ke dalam debu, membelokkan jalan orang sengsara, anak dan ayah menjamah seorang perempuan muda, mereka mabuk dengan anggur orang-orang yang kena denda di samping mezbah Tuhan (Amos 2:6-8).

Bukankah cara ibadah seperti ini di sepanjang jaman tetap ada? Orang bisa memberikan persembahan dengan jumlah yang banyak. Namun, apakah uang itu merupakan hasil jeri lelahnya dan dilakukan dengan pengucapan syukur? Ataukah uang itu hasil dari pekerjaan yang tidak karuan dan dengan motivasi mirip-mirip money laundering serta mengharapkan Tuhan memberikan lebih banyak lagi? Untuk orang-orang seperti jaman Amos ini, bukan kebajikan yang akan dituai, Amos mengatakannya, “Celakalah mereka yang menginginkan hari TUHAN! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang! (Amos 5:18).

Respon kelompok yang kedua diwakili oleh jemaat Tesalonika (1 Tesalonika 4:13-18), yang memandang dan menantikan hari Tuhan dengan sikap yang berlebihan. Mereka sangat menantikan hari itu. Akibatnya mereka tidak terlalu memedulikan kehidupan masa kini. Mereka juga menjadi kuatir terhadap saudara-saudara mereka yang telah meninggal saat menyambut kedatangan Yesus kembali. Ada banyak tipe orang seperti Jemaat Tesalonika, memandang kehidupan ritual ibadah dan kesalehan pribadi adalah segalanya. Banyak cerita kesaksian menggambarkan hal itu. Seseorang meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya baik dalam pekerjaan maupun rumah tangga hanya untuk menantikan atau menyongsong kedatangan Tuhan di angkasa yang akan mengangkatnya dalam kemuliaan.

Sementara itu kelompok yang ketiga adalah orang-orang yang tidak serius mempersiapkan dan menyambut hari penghakiman itu. Kelompok ini digambarkan dengan lima gadis bodoh, yang tidak mempersiapkan minyak bagi pelitanya saat menantikan kedatangan mempelai (Matius 5:1-13). Perumpamaan ini menegaskan bahwa setiap orang harus senantiasa berjaga-jaga mengantisipasi hari Tuhan itu. Sebab tak seorang pun tahu bilamana peristiwa itu terjadi. Kenyataannya banyak orang masuk dalam kelompok ini. Tidak terlalu peduli dengan “hari esok”, yang penting sekarang. Mumpung sekarang bisa dan ada kesempatan lakukanlah sesukamu, urusan hari esok gimana nanti! Prinsip hidup orang-orang seperti ini adalah kumaha engke (gimana nanti), bukan engkena kumaha (nantinya gimana).

Sikap yang terakhir adalah apa yang diperlihatkan oleh lima gadis yang disebut bijaksana. Mereka mempersiapkan minyak sebagai bekal agar pelitanya terus menyala. Mereka mempersiapkan segala sesuatu dengan teliti, serta berjaga-jaga dalam keadaan apa pun. Berjaga seperti apa? Jelaslah kalau membaca Amos, orang yang menantikan kedatangan Tuhan dengan benar adalah orang yang mampu melakukan ritual keagamaan dengan menjadikannya bukan sekedar bentuk kesalehan pribadi yang mengundang decak kagum orang yang melihatnya, melainkan yang mampu menghadirkan kemasylahatan bagi banyak orang. “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” (Amos 5:24). Jadi jangan tunggu besok. Berjaga-jagalah sekarang karena waktu tidak bisa kompromi dan tidak bisa diulang!



sumber: gkimabes.org

Fokus Anda Menentukan Reaksi Anda



“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Fokus kita akan menentukan reaksi kita. Kita tidak boleh terus menerus memfokuskan diri kepada kekurangan dan kelemahan kita. Kita harus memahami bahwa kita adalah seorang yang lebih dari pada pemenang [Roma 8:37].

Ketika kita memfokuskan diri kepada kekurangan dan kelemahan maka kita akan mengucapkan perkataan yang sia-sia. Perkataan yang sia-sia akan menyesatkan pikiran kita [Titus 1:10], dan pikiran yang sesat akhirnya akan menyesatkan perbuatan kita [Roma 1:28].

Namun, bilamana kita berfokus kepada ‘Janji Tuhan’ maka kita akan tetap bertahan di tengah ketidakpastian badai kehidupan dunia ini, bahkan kita akan keluar sebagai pemenang.

Berikut beberapa contoh mereka yang memfokuskan dirinya kepada janji Tuhan.
Tuhan Yesus Kristus dapat tidur nyenyak di tengah badai. [Markus 4:35-41]
Tuhan Yesus Kristus memfokuskan diri-Nya kepada ‘Janji Bapa.’

Ketika Ia menghadapi badai yang sedang mengamuk bersama para murid-murid di dalam perahu. Sementara para murid sedang ketakutan, Tuhan Yesus sedang tertidur.
Bagaimana mungkin Ia dapat tertidur di tengah badai? Saya percaya bahwa Yesus memegang Janji Bapa, yaitu Ia akan mati melalui proses penyaliban, bukan dengan cara tenggelam dalam laut.

Janji inilah yang membuat diri-Nya tetap tenang, kuat, dan penuh damai sejahtera.

Petrus tertidur nyenyak ketika ia sedang menantikan hukuman eksekusi mati. [Kisah 12:5-9]
Rasul Petrus, seorang yang memfokuskan dirinya kepada ‘Janji Tuhan’ sekalipun ia sedang menantikan eksekusi mati dari dalam penjara dengan tangan terbelenggu rantai, ia masih dapat tertidur nyenyak.

Mengapa Petrus begitu tenang dalam menghadapi kenyataan yang begitu pahit, sulit dan sudah pasti tidak mungkin dapat bebas?

Karena ia memegang janji Tuhan yang diterima ketika ia berjumpa dengan Tuhan di tepi Danau Tiberias setelah kebangkitan-Nya. [Yohanes 21:18]

Ketika Petrus di dalam penjara usianya masih muda [seusia Tuhan Yesus saat itu]. Ia tahu bahwa ia tidak akan mati sampai ia sudah menjadi tua. Inilah yang membuatnya tetap tenang, sehingga ia dapat tertidur dengan begitu nyenyak.

Abraham, seorang yang memfokuskan dirinya kepada Janji Tuhan [Roma 4:18-21]
Kitab Roma 4:18, menulis, “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Kata ‘terhadap janji Allah’ menggambarkan bahwa Abraham memfokuskan dirinya kepada janji Allah.

Inilah yang membuat imannya semakin diperkuat dan ia dapat terus memuliakan Allah, sambil menantikan penggenapan janji-janji tersebut sekalipun fakta yang dialaminya lebih condong kepada suatu kemustahilan.

Bagaimanakah Caranya memfokuskan diri kepada Janji Tuhan?

Pertama, Kita harus mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh [Hosea 6:3]

Kitab Hosea 6:3, menegaskan bahwa orang yang berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan maka ia akan melihat janji Tuhan itu seperti Fajar atau Hujan yang terjadi dalam kehidupannya.

Kita dapat mengenal Tuhan dengan jalan membaca Alkitab, mendengar kotbah, berdoa, bersekutu dengan orang-orang yang diurapi, setia dan intim dengan Tuhan, membaca buku-buku yang diurapi.

Kita pun dapat mengenal Tuhan melalui peristiwa-peristiwa, pengalaman-pengalaman hidup bersama Tuhan.

Kita dapat mengenal Allah Penyembuh [Yehova Rapha], bilamana mengalami kesembuhan atas penyakit kita. Kita dapat mengenal Allah Sumber Damai Sejahtera [Yehova Shalom] ketika mengalami kelepasan dari ketakutan.

Ketika kita mengenal Tuhan lebih dekat maka kita dapat mengetahui bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,…” [Roma 8:28].

Kedua, Kita harus menanti-nantikan Tuhan [Yesaya 40:31]

Nabi Yesaya berkata bahwa bagi mereka yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru. Kata ‘menanti’ berarti mengharapkan, mencari dan menaruh pengharapan dalam Dia.

Jika kita yakin dan percaya kepada Tuhan, kita akan mendapatkan kekuatan baru. Kata “mendapat” berarti “menukar.” Kita akan menukar kelemahan kita dengan kekuatan Allah.
Setiap hari, kita memerlukan pertukaran kekuatan ilahi atau pertukaran hati. Pertukaran kekuatan ilahi [hati] terjadi ketika kita mulai berlutut untuk berdoa dan mulai menyembah Dia sampai hadirat-Nya memenuhi hati kita.

Di hadirat-Nya, orang-orang lemah akan mendapat kekuatan baru – Dan kekuatan ilahi inilah yang memberikan kepada kita kemampuan untuk terus memegang janji Tuhan sampai janji itu terlaksana dalam kehidupan kita.

Ketiga, Kita harus melakukan investasi [menabur]

lebih banyak daripada melakukan konsumsi untuk diri kita sendiri [2 Korintus 9:6,10]

Allah telah memberikan kepada kita segala sesuatu yang baik berupa: kesempatan, waktu, talenta, kesehatan, keuangan dan sebagainya.

Ada bagian yang berupa roti untuk dimakan dan ada bagian yang berupa benih untuk ditabur.
Bilamana ‘pemberian’ itu sebagian besarnya hanya dipergunakan untuk dimakan bagi diri sendiri atau kegiatan konsumsi maka ‘pemberian’ itu tidak pernah mengalami pelipatgandaan.

Namun sebaliknya, bilamana ‘pemberian’ itu sebagian besarnya dipergunakan untuk investasi [menabur] maka ‘pemberian’ itu akan mengalami pelipatgandaan.
Sebagai contoh: Ishak melakukan kegiatan investasi [menabur] ketika terjadi bencana kelaparan [kesulitan] – Kejadian 26:12-13

Ishak memegang janji Tuhan yang menyatakan bahwa, “Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.” [Kejadian 26:4].

Ishak tidak berpangku tangan dan menjadi putus asa sebagai orang yang sedang mengalami kesengsaraan akibat bencana kelaparan, sebaliknya demi menunggu janji Tuhan, Ishak menabur [melakukan investasi] di negeri itu.
Ada usaha dan tindakan yang dilakukan Ishak yang pada akhirnya membuat dia menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya sehingga ia menjadi sangat kaya; sebab ia diberkati Tuhan.

Penutup:
Fokus kita akan menentukan reaksi kita. Badai kehidupan yang datang menerjang merupakan cara yang dapat menyatakan apa fokus kita.

Bilamana reaksi kita tetap tenang, kuat dan penuh damai sejahtera maka sebenarnya kita adalah orang-orang yang sedang memfokuskan diri kepada janji-janji Tuhan.

Seseorang dapat memegang janji Tuhan sampai janji itu terlaksanakan dalam hidupnya, bilamana ia mengenal Tuhan yang berkuasa untuk melaksanakan apa yang dijanjikan-Nya; suka menanti-nantikan Tuhan dalam doa pujian dan penyembahan; dan suka menabur [menginvestasikan] sumber daya yang dimilikinya.




sumber: bukitkasih.com