JOY
TO THE WORLD
Lirik lagu ini diambil langsung
dari Alkitab, tepatnya Mazmur 98, oleh seorang Inggris bernama Issac Watts
tahun 1719. Seratus tahun kemudian, pencipta lagu berkebangsaan Amerika, Lowell
Mason, menciptakan nada untuk lagu itu. Jadilah lagu “Joy to the World” sebagai
salah satu hymne Natal yang indah.
White Christmas
.ASCAP (The American Society of Composers, Authors and Publishers) menetapkan
lagu ini sebagai lagu Natal yang paling sering dinyanyikan dalam kaset rekaman
sepanjang sejarah, dengan lebih dari 500 versi dalam 25 bahasa. Lagu ini
dinyanyikan oleh Bing Crosby pertama kali tahun 1942 dalam sebuah acara
musikal. Irving Berlin si pencipta lagu itu sebenarnya kurang pd dengan
lagunya. Tetapi selera pasar berkata lain.
Para pendengar yang saat itu berada di tengah-tengah Perang Dunia II, menyukai
liriknya yang dirasakan sanggup menghibur mereka yang sedang menghadapi perang
pada saat Natal. Sekarang, lagu White Christmas menjadi favorit banyak orang.
.
Gita Surga Bergema
(Hark, The Herald Angels Sing)
.Charles Wesley (adik dari John Wesley pendiri Gereje Methodist), menciptakan
lirik lagu sebanyak lebih dari 3000 buah termasuk lagu “Hark, the Herald Angels
Sing” ini.
Sedangkan melodinya diciptakan oleh seorang pemusik bernama Felix Mendelssohn.
Lagu Natal yang dikenal dengan irama cepat ini, seharusnya dinyanyikan secara
lambat dan khidmat, seperti keinginan para penciptanya. Keinginan itu memang
tidak ‘dikabulkan’ oleh William Cummings pemublikasi lagu tersebut tahun 1955.
Felix dan Charles tidak bisa protes lebih lanjut karena ketika lagu mereka
dipublikasikan, mereka berdua sudah keburu dipanggil Tuhan.
.
Jingle Bells
.Lagu ini memiliki cerita yang menarik. Tahu mengapa? Karena lagu ini sama
sekali bukan lagu Natal. Tahun 1859, James Pierpont menciptakannya sebagai lagu
‘kebangsaan’
pertandingan kebut-kebutan antar kereta luncur (sleigh ride). Perlombaan itu
hanya diadakan saat musim dingin tiba, karena salju adalah media utama bagi
kereta luncur.
Pierpont yang adalah seorang penggemar kuda dan adu cepat pada masa itu, merasa
perlu menciptakan sebuah lagu riang untuk dinyanyikan saat pertandingan.
.Arti lirik refrain lagu itu kurang lebih demikian, “Bel berbunyi sepanjang
jalan, sangatlah menyenangkan naik diatas kereta luncur yang dibawa oleh seekor
kuda”. Entah apa yang menyebabkan lagu Jingle Bells akhirnya diasumsikan
sebagai lagu Natal .
.
O Holy Night
.Dalam segala hal, lagu yang indah dan sangat brilian dari Prancis yang
berjudul “Cantique de Noël” ini, tampak tanpa cacat dan cela. Liriknya yang
religius dan melodinya yang sangat indah, serta suasana yang dibawakan kepada
kita mencapai puncaknya dalam setiap penampilan lagu ini. Dalam penerimaan
publik pun lagu ini diterima dengan sangat baik. Lagu ini termasuk salah satu
lagu natal Prancis yang sangat terkenal dan bahkan di dunia internasional.
.
Tetapi kenapa kemudian seseorang mau menolak dan melarang keras penerbitan dari
karya ini di saat-saat natal? Jawabanya terletak bukan pada karakteristik dari
lagu ini sendiri, tetapi pada persepsi beberapa orang terhadap pencipta lagu
ini. Kisah ini bermula di tahun 1847. Di Lembah Rhône, Prancis, yang terkenal
dengan anggurnya yang berkualitas, perbedaan budaya yang mencolok, serta
sejarahnya yang menawan, tinggallah seorang pria yang keberadaannya disentuh
oleh seluruh aspek di atas. Placide Cappeau (1808-1877), seorang anggota
komunitas kota Roquemaure – beberapa mil utara kota bersejarah Avignon – yang
jabatannya adalah seorang komisioner mengurus anggur, yang di waktu senggangnya
diisi dengan menuliskan bait-bait puisi dalam bahasa Prancis atau dialek Lang
d’oc, dengan tidak sengaja menjadi seorang tokoh kecil dalam sejarah.
Kejadian menarik ini terjadi ketika Cappeau menjadi teman sepasang keluarga dari
Paris bernama Laurey. Keluarga ini untuk sementara ditempatkan di Selatan
Prancis, agar Laurey dapat melanjutkan kariernya di bidang teknik sipil, dengan
membangun jembatan melintasi Sungai Rhône di daerah Roquemaure. Tepat sebelum
Cappeau pergi ke Paris untuk urusan bisnis, pendeta dari jemaat di sana meminta
penulis paruh waktu ini untuk menuliskan sebuah Puisi Natal dan menyerahkannya
kepada seorang komponis terkenal di Prancis bernama Adolphe Adam (1803-1856)
untuk aransemen musiknya. Adam adalah seorang teman dekat istri pasangan
Laurey, yang adalah seorang penyanyi. Dilaporkan, pada 3 Desember 1847,
kira-kira di tengah perjalanan ke Paris, Cappeau mendapatkan inspirasi untuk
puisi tersebut, “Minuit, Chretiens.”
Cappeau sama sekali tidak terkenal pada saat dia menghubungi Adam di Paris.
Komponis tersebut sebaliknya, sedang berada pada puncak masa keemasannya –
seorang yang sangat popular dan musisi yang sangat aktif. Adam baru beberapa
tahun yang lalu, di tahun 1841, menghasilkan karyanya yang terbaik, balet
Giselle. Karya ini biasa disebut sebagai ‘Hamlet untuk karya balet’, karena
kisahnya yang menyedihkan, tantangannya untuk balerina yang membawakan, serta
keindahan estetika hasil perpaduan koreografi dan musik. Melodi yang dibuatnya
untuk karya puisi dari teman Ny. Laurey hanyalah karya kecil dari reputasinya.
.
Setelah Cappeau membawa karyanya kepada Adam, lagu ini berhasil diselesaikan
dalam beberapa hari. Pemunculan perdana dari lagu ini, seperti yang telah
direncanakan, adalah pada misa tengah malam di gereja Roquemaure pada Natal
1847. Sangat mudah dimengerti bahwa para penonton tidak menyangka bahwa musik
yang begitu menyentuh jiwa ini sebagian adalah hasil karya seseorang dari
tempat itu sendiri. Mereka sangat terkesima. Setelah pemunculan ini,
bertahun-tahun kemudian, lagu ini menjadi lagu yang sangat terkenal dinyanyikan
pada saat Natal. Pertama kali lagu ini diterbitkan pada tahun 1855 oleh Schott
and Company di London, dan dari sanalah, lagu ini mengalami beberapa
penyesuaian dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di seluruh dunia. Terjemahan
yang paling terkenal adalah versi O, Holy Night yang ditulis oleh seorang
kritikus musik dan jurnalis dari Amerika bernama John Sullivan Dwight
(1818-1893).
Karena lagu ini sangat terkenal dan popular, maka beberapa orang kurang
menyenangi lagu ini dan menganggapnya tidak mewakili Natal. Alasan utama
serangan terhadap lagu ini bukan pada bagian seninya, tetapi lebih kepada
karakteristik negatif latar belakang penulisnya. Seorang bishop dari Prancis bahkan
pernah mengatakan bahwa lagu ini tidak memiliki cita rasa musik dan kehilangan
(tidak ada) spirit agama di dalamnya. Adam berasal dari latar belakang
non-Kristen dan pekerjaannya pun adalah komponis lagu-lagu opera untuk teater,
sebuah arena yang sangat jauh dari wilayah religius teologis. Lebih buruk lagi,
Cappeau, digambarkan sebagai seorang sosial radikal, pemikir bebas, sosialis,
dan seorang non-Kristen. Dalam beberapa hal, pengelompokan seperti ini benar.
Pada akhir masa hidupnya, Cappeau mengadopsi beberapa pemikiran politik dan
sosial yang sangat ekstrim di masanya, seperti menentang ketidaksetaraan,
perbudakan, ketidakadilan, dan segala macam penindasan. Hal ini sangat jelas
diindikasikan dalam karya puisinya yang terbit tahun 1876 berjudul “Le Château
de Roquemaure”, sebuah karya puisi filosofis 4000 baris dimana Cappeau
menyangkali lirik yang ditulisnya tahun 1847 dan merevisi seluruh isi dan
penampakannya. Seluruh keanehan ini terjadi pada akhir-akhir masa hidupnya, dan
ditandai dengan kehidupan eksentrik yang sangat jelas. Ketika dia menulis
bait-bait lagunya yang indah dan menyentuh, dia mungkin hanyalah seorang
Kristen biasa, kalau tidak pendeta jemaat tersebut tidak akan memintanya untuk
menuliskan suatu puisi yang sifatnya religius.
.
Secara keseluruhan, lagu ini mungkin merupakan lagu solo Natal terindah yang
ada sekarang ini. Pengaruh lagu ini pada kebudayaan barat diilustrasikan di
sebuah cerita yang konon kabarnya belum diketahui kebenarannya. Ketika terjadi
perang antara Prancis dan Prussia (sekarang Jerman) di tahun 1870-1871, tentara
Prancis dan Jerman saling berhadapan di parit-parit luar kota Paris. Pada malam
Natal, seorang tentara Prancis tidak disangka-sangka melompat keluar parit dan
menyanyikan lagu ini. Terpesona akan keindahan lagu ini, para tentara Jerman
bukan saja tidak menembak tentara Prancis tersebut, malah mulai menyanyikan
lagu Natal yang terkenal di Jerman yang ditulis oleh Martin Luther berjudul
“Vom Himmel hoch” (“From Heaven Above to Earth I come”). Benar tidaknya kejadian
ini, setidaknya melukiskan betapa lagu ini begitu dicintai. Jika ini sejarah,
maka hal ini melukiskan pengaruh budaya dari lagu tersebut. Jika ini hanya
cerita, maka hal ini mencerminkan pengaruh yang berkelanjutan dari lagu ini
dalam imajinasi manusia.
.Dari beragam keunikan lagu-lagu Natal, intinya hanyalah satu, yaitu untuk
membawa suasana kehangatan Natal itu sendiri dalam setiap hati orang yang
menyanyikan dan mendengarkannya. ***