Rahasia Di Balik Jaket Bos Facebook Terungkap! Benarkah Mark Zuckerberg Pemuja Setan?




Mark Zuckerberg selaku pendiri sekaligus bos daripada situs jejaring sosial terkenal saat ini, Facebook, gemar memakai jaket bertudung atau yang sering disebut Hoodie. Hanya sekedar suka atau ada makna lain di balik jaketnya? Ternyata memang bukan sembarang jaket.

Pada saat Konfrensi D8 diadakan di California, Mark Zuckerberg, yang diwawancarai oleh Kara Swisher dan Walt Mossberg, dengan terpaksa menyingkap sedikit rahasia Hoodie miliknya. Saat itu ia sedang dicecar tentang kehidupan pribadinya, dan keringat yang mengucur, memaksanya untuk membuka jaketnya.

Jaket tersebut langsung menarik perhatian Kara Swisher, karena dibagian dalam Hoodie Mark terdapat logo atau symbol simbol bergambar lingkaran beserta anak panah yang menuju ke enam penjuru arah mata angin. Di titik pusat keenam anak panah itu, terbentuk lambang bintang daud. “Apa ini, apakah kamu ikut semacam pemujaan setan,” kata Kara Swisher sambil melihat jaket milik Zuckerberg, dikutip dari situs SFWeekly.

Kara Swisher juga menambahkan bahwa gambar di jaket itu mengingatkannya pada simbol illuminati. Sementara Gawker.com menambahkan bahwa simbol itu juga mempresentasikan wajah iblis Beelzebub pada mitologi Yahudi.

Zuckerberg sendiri sudah banyak diketahui sebagai anak keturunan dari pasangan keluarga Yahudi-Amerika, Edward dan Karen Zuckerberg.

Saat kuliah di Di Harvard, pria yang kini berusia 26 tahun itu, juga bergabung dengan Alpha Epsilon Pi, sebuah organisasi persaudaraan Yahudi. Namun, menurut sumber SF Weekly, belum ada bukti-bukti yang cukup kuat bahwa terdapat ritual-ritual rahasia semacam yang dilakukan oleh kelompok illuminati, di Facebook.

Ida Manik (FB)

Ramalan Kiamat Tak Terjadi, 1 Nyawa Melayang


Ramalan kiamat Harold Camping pada kenyataannya tak pernah menjadi kenyataan. Namun siapa sangka prediksi tersebut telah memakan korban jiwa. Inilah efek buruk dari ramalan kiamat dan kehancuran bumi terhadap masyarakat yang dilakukan Camping itu.

Lyn Benedetto, merupakan satu dari jutaan orang yang mendengarkan pesan kiamat Camping. Ia sangat tertekan dengan pesan tersebut sampai-sampai muncul ketakutan jika dua orang anaknya sangat menderita setelah akhir dunia tersebut.

Sebelum hari penghabisan yang diramalkan Camping, Lyn meminta kedua putrinya yang masing-masing berusia 11 dan 14 tahun berbaring di kasur lalu menyayat leher mereka. Lyn juga berusaha menghabisi nyawanya sendiri. Beruntung polisi datang dan menghentikan upaya tersebut. Lyn dan kedua anaknya akhirnya selamat.

Namun satu nyawa melayang di daerah lain akibat terpengaruh ramalan Camping. Seorang kakek di Taiwan dilaporkan bunuh diri dengan meloncat dari gedung tinggi pada Kamis, 5 Mei 2011, sebelum terjadinya gempa besar yang menghancurkan dunia.

Menurut editor majalah “Science”, Benjamin Radford, upaya bunuh diri akibat isu kiamat tak terjadi sekali ini saja. Ia mencontohkan kejadian bunuh diri massal pada tahun 1997 oleh sekte Kristen Pintu Surga yang mempercayai kedatangan komet terang Hale-Bopp sebagai pertanda kedatangan Yesus dan dunia segera berakhir. Setelah menyebarkan ramalan melalui radio, 40 orang pengikut sekte ini melakukan bunuh diri massal.
“Kegagalan ramalan kiamat Camping menjadi pelajaran berharga karena menimbulkan kepanikan. Jangan sampai terulang,” ujar Redford.

Ia berharap masyarakat tak tertipu dengan isu kiamat yang diperkirakannya masih akan terus digembar-gemborkan di masa mendatang.

(tempo)

Kejadian-kejadian Unik

Lihatlah beberapa peristiwa yang terjadi di beberapa negara ini sungguh unik dan bisa membuat kita kaget melihatnya..Peristiwa-peristiwa tersebut hanya terjadi di Australia, China, Hawai, Indonesia, India, Texas, Thailand, Jepang, dll... yang sulit untuk ditemukan di negara-negara lain.


Hanya di Australia

Hanya di China

Hanya di Hawai

Hanya di Indonesia

Hanya di Texas

Hanya di Thailand

Hanya di Banglades

Hanya di India

Hanya di Jerman

sumber: kaskus.com

Kejadian Unik dan Aneh “Anak Menelan Gunting dan Selamat



Suka hal yang unik seperti peristiwa unik dan aneh berikut ini dimana seorang anak melan gunting namun masih bisa diselamatkan.

Peristiwa yang terjadi di Bristol, Inggris, ini benar-benar mengejutkan. Curtis Francis, bocah berusia 12 tahun, menelan sebuah gunting hingga menyangkut di kerongkongan. Beruntung, dia selamat dengan hanya mengalami cedera ringan, seperti dikutip dari The Sun.


Tanpa sepengetahun Karon Edwards, sang ibu, Curtis tanpa sadar memasukkan gunting yang sedang dipegangnya ke dalam mulutnya. Ketika Karon melihat anaknya batuk darah, ia baru menyadari ada sesuatu yang salah dialami Curtis.

“Aku hanya berpikir dia menelan tutup pena. Tapi, ya Tuhan, ternyata yang ia telan adalah sebuah gunting,” ujar Karon.

Melihat ujung bagian gunting yang masih ‘menyembul’ di ujung kerongkongan anaknya, Karon panik. Ia langsung memanggil paramedis. Bocah malang ini selanjutnya dilarikan dengan ambulans ke Bristol Royal Infirmary. Di rumah sakit inilah dokter berhasil mengeluarkan gunting itu.

“Pada saat ambulan tiba, aku dan Curtis menangis. Ketika kami sampai rumah sakit dan diberitahu ada gunting di kerongkongannya, aku sangat khawatir,” kata Karon.
Curtis sangat beruntung. Dia tidak mengalami kerusakan fisik secara permanen. Saat ini, Curtis sedang menjalani pemulihan dari luka akibat bagian ujung gunting yang tajam.

Ternyata, kejadian menakutkan ini bukan baru sekali dialami Curtis. Sebelumnya, tutup pena juga pernah ditelannya. “Waktu itu, tutup penanya berhasil dikeluarkan, karena ukurannya tidak terlalu besar,” ucap Karon dengan wajah menunjukkan rasa cemas.

Berbeda dari anak sebayanya, Curtis memang tergolong anak berkebutuhan khusus. Ia tidak peka terhadap bahaya. “Saya memang harus mengawasinya sepanjang waktu. Tapi, aku lengah saat dia menelan gunting tersebut,” kata Karon yang menceritakan kejadian itu. “Itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Sungguh mimpi buruk. Sekarang, saya harus lebih berhati-hati menjaganya.”

Kenapa Manusia Suka Gosip?



Tak sedikit orang yang menyadari bergosip itu kebiasaan yang tidak baik, walaupun begitu kadang kita mendengar ada gosip, kita langsung penasaran ingin tahu lebih dalam walau topik yang digosipkan adalah masalah pribadi orang lain.

Problema terhanyut dalam lingkaran gosip memang sulit dihindari. Salah satu penyebabnya adalah sistem visual kita terprogram untuk fokus pada gosip negatif yang kita dengar. Selain itu, ternyata otak manusia mengingat gosip negatif lebih kuat daripada gosip positif atau gosip yang netral.

“Secara alamiah kita memang lebih sensitif pada informasi yang mungkin berpotensi mengancam kehidupan kita,” Irving Biederman, ahli neuroscience dari California Amerika Serikat.
Walaupun topik dalam gosip itu mengenai orang lain, namun bukan tidak mungkin suatu saat akan menimpa kita. Misalnya tentang PHK karyawan atau perselingkuhan.

“Kita bisa mengambil keuntungan dari gosip negatif yang kita dengar dengan cara menghindari hal itu agar tidak terjadi pada kita,” kata ketua peneliti Eliza Bliss-Moreau, dari California, AS.
Studi sebelumnya juga mengungkapkan manusia berevolusi sedemikian rupa untuk memiliki kecenderungan menghakimi dan senang membicarakan orang lain.

Meski ada banyak kategori pembicaraan dengan orang lain, mulai dari salam, penjelasan, berbohong atau menceritakan rahasia, namun yang paling disukai orang adalah membicarakan orang lain. Bahkan, meski pembicaraan diawali dengan topik tentang cuaca, pada akhirnya mereka akan membicarakan orang lain.
Ahli primata Robin Dunbar dari Universitas Oxford Inggris mengatakan bahwa gosip tidak selalu berarti buruk. Dunbar menjelaskan, gosip telah melalui seleksi evolusi sebagai salah satu cara untuk menyatukan kelompok manusia.

Pada awalnya, menurut Dunbar, primata seperti babon hidup berkelompok dan menggunakan perawatan diri sebagai alat sosial untuk menjalin, menjaga dan memutus hubungan sosial. Namun dalam sejarah evolusi, kelompok manusia sebagai besar dan tidak ada yang punya waktu lagi untuk memperhatikan penampilan orang lailn. Gosip atau membicarakan orang lain kemudian menggantikannya sebagai perekat ikatan sosial.
Walau gosip mungkin secara alami sudah ada dalam setiap lingkungan sosial, tetapi manusia tidak terlahir untuk bergosip. Anak-anak belajar seni komunikasi melalui lingkungannya, mulai dari bicara dengan sopan pada orangtua, tidak menyumpah pada orang lain, atau menggunakan tata bahasa yang baik. Termasuk, kebiasaan menggosipkan orang lain.

Dengan kata lain, meski kita punya kecenderungan untuk menyukai gosip, tetapi kesukaan itu tidak harus dipupuk. Malah, kita bisa mengajar anak-anak untuk menghindari gosip dengan cara “menjaga lidah” untuk tidak sering-sering membicarakan berita negatif tentang orang lain.

(kompas)

Karya dan Kepengarangan Kahlil Gibran


Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".

>>>Kematiannya<<<

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

sumber: Phillipus Arie Setiyadi

Kisah Singkat Kehidupan Kahlil Gibran


Kahlil Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Bsharri sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat sejak tahun 1898 sampai 1901.

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

>>>Amerika Serikat<<<

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

sumber: Phillipus Arie Setiyadi (FB)