Mengapa kita harus mengendalikan lidah?



Pada suatu hari saya memberikan teka-teki kepada seorang murid Sekolah Minggu: "Coba terka, benda apakah yang kecil bentuknya, tetapi besar pengaruhnya?" Jawaban yang spontan yaitu: "Bom Atom! "Mengapa?" tanya saya. Lalu ia menerangkan bahwa sebutir bom atom yang diledakkan dapat membinasakan jutaan manusia dan radiasinya dapat mempengaruhi seluruh dunia.

Jawaban anak Sekolah Minggu itu betul, tetapi tidak setiap manusia memiliki bom atom. Tahukah Saudara, bahwa setiap kita mempunyai LIDAH. Lidah adalah organ tubuh yang kecil, tetapi pengaruhnya besar. Seperti apa yang dikatakan oleh Yakobus: "Lihatlah, betapa kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api" (Yak 3:5-6).

Ada beberapa macam "lidah" yang dapat menjadi peringatan bagi kita sekalian.

Lidah tak bertulang

"Lidah tak bertulang" adalah pepatah yang sering kita dengar yang berarti mudah berjanji tidak menepatinya. Seperti halnya seorang pemuda yang sedang berpacaran. Untuk memikat hati si dia, ia berjanji muluk-muluk: "Untuk engkau, mati pun saya rela ..." Tetapi, tidak
lama berselang, si pemuda tersebut sudah mengkhianati janji-jani-Nya. Ia sudah "changed his mind." Maka "lidah tak bertulang" berarti perkataan yang keluar dari mulut saja dan bukan dari hati. Sebagai orang Kristen, marilah kita bertanggung jawab atas perkataan yang keluar dari mulut kita sendiri.

Lidah panjang

Dalam peribahasa Tionghoa, oramg yang suka menyampaikan "gosip", dikiaskan sebagai "nenak tua yang berlidah panjang." Lidah yang panjang dengan motif yang jahat dapat menyampaikan perkataan-perkataan yang tak sesuai dengan kenyataan. Hal ini akan menghancurkan kepribadian seseorang, menyebabkan keretakan dalam gereja dan menyakiti hati orang lain. Pernahkah Saudara berbuat sedemikian? Ingatlah firman Tuhan yang mengatakan: "Engkau merancang penghancuran, lidahmu seperti pisau cukur yang diasah, hai engkau, penipu."

Lidah penjual obat

"Lidah penjual obat" berarti pembual atau lidah yang tidak terkendali. Ada sebuah lelucon sebagai berikut : Seorang penjual obat di tepi jalan ingin menarik perhatian para penonton, sehingga ia menyediakan sebuah kerangka manusia sambil mengatakan: "Inilah kerangka moyang kita Adam." Sahut seorang penonton dengan tiba-tiba: "Tidak mungkin, sebab tulang rusuk Adam tentunya kurang satu, padahal itu lengkap." Penjual obat menjawab: "Betul, ini kerangka Adam semasa Hawa belum diciptakan."

Saudara-saudara sekalian, banyak di antara kita berlidah penjual obat, asal putar lidah tetapi tak terkendali. Hal ini akan menurunkan reputasi kita sendiri. "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi" (Ams 10:19). Ingatlah bahwa tidak ada penghapusan perkataan yang terlanjur keluar dari mulut kita.

Lidah berbisa

Lidah yang berbisa adalah orang yang suka memfitnah, menghasut, mengadu domba, menghina dan menjatuhkan orang lain. Pemazmur mengatakan: "Mereka menajamkan lidahnya seperti ular, ular senduk ada di bawah bibirnya" (Mazm 140:4). Lidah yang berbisa jauh lebih jahat dan lidah-lidah lain yang telah kita bahas tadi. Saya yakin bahwa Tuhan akan mencabut kesejahteraan orang-orang yang demikian, "Pemfitnah tidak akan tinggal tetap di bumi" (Mazm 140:12).

Pengajaran Alkitab

Kesalahan dalam berkata-kata bukan hal yang remeh atau kecil, melainkan menyangkut seluruh kepribadian orang Kristen.

1.   Tanda orang yang beribadah: "Jikalau ada seorang mengganggu dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya" (Yak 1:26).

2.   Tanda orang yang sempurna: Barangsiapa tidak salah perkataannya, ia adalah orang yang sempurna yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3.   Teladan Tuhan Yesus: "Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan 'kata-kata' yang indah yang diucapkan-Nya (Luk 4:22).

4.   Teladan Timotius: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu ..." (1Tim 4:22).

5.   Peringatan: "Setiap kita sia-sia yang diucapkannya orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman, karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum" (Mat 12:36-37).

6.   Doa orang Kristen: "Setelah pembahasan tentang lidah, marilah kita mawas diri, apakah kita pemfitnah, pembohong, pemarah, penghasut, pembual, pengadu domba, dan lain-lain.

Hendaklah kita berdoa demikian: "Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu
bibirku" (Mazm 141:3).

Apa atau siapakah yang dimaksud sebagai "Batu Karang ini" dalam Matius 16:18-19?



Setelah Petrus menyatakan pengakuan imannya terhadap Tuhan Yesus, berkatalah Tuhan kepadanya: "Engkau adalah Petrus (petros), dan di atas batu karang (petra) ini, Aku akan mendirikan jemaat-Ku ... Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan surga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau kepaskan di dunia ini akan terlepas di surga." (Mat 16:18-19).

"Di atas batu karang itu" Tuhan Yesus mendirikan jemaat-Nya. Apa atau siapakah yang dimaksud sebagai "batu karang ini?" Dewasa ini, para sarjana Teologi mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap ayat-ayat tersebut. Tetapi pada hakekatnya boleh kita simpulkan di dalam 3 kategori sebagai berikut:

1.   "Batu karang ini" adalah Kristus. Pendapat ini sesuai dengan kebenaran yang terkandung di dalam Kitab Perjanjian Baru, "karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus" (1Kor 3:11).

2.   "Batu karang ini" adalah pengakuan iman Petrus yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16). Pendapat ini pun sesuai dengan dogma Kristen tentang landasan gereja, yakni mempercayai Yesus sebagai Kristus, Anak Allah.

      Memang gereja-gereja yang Injil, fundamentalis dan konservatif, kebanyakan menganut pendapat yang pertama dan yang kedua. Kita pun tidak setuju dengan ajaran gereja Roma Katolik yang mengatakan bahwa Petrus adalah pemimpin gereja seluruh dunia dan kepemimpinan ini diwariskan kepada Paus. Namun kalau kita menyelidiki tata bahasa dan susunan kalimat dalam bahasa asalnya, kita akan condong pada pendapat yang ketiga. Walaupun demikian, tidak berarti kita segaris dengan ajaran Roma Katolik. Alasannya boleh kita bahas sebagai berikut:

a.   Walaupun "petros" boleh diterjemahkan sebagai "batu" atau "batu karang" yang tersendiri dengan pengertian bahwa batu karang tersebut adalah "kecil", sedangkan "petra" adalah "batu karang yang besar" atau yang masih terbentuk "gunung", tetapi kedua kata tersebut berasal dari akar kata yang sama. Kedua kata ini di dalam bahasa Arami juga mempunyai terjemahan yang sama, yaitu "Kepha" (di dalam bahasa Indonesia: Kefas, Yoh 1:42). Maka di dalam bahasa Arami istilah "Kepha" akan muncul dua kali dalam ayat tersebut.

b.   Dalam bahasa Yunani, "petra" adalah kata benda yang berbentuk betina, maka tidak sesuai sebagai nama yang diberikan untuk Simon, sehingga harus memakai "petros" yang berbentuk jantan untuk menyebut Simon.

c.   Menurut susunan kalimat dalam ayat tersebut antara "petros" dan "petra" terdapat kata penghubung "kai" (dan). Ini menunjukkan bahwa "Petros" dan "Petra" mempunyai hubungan erat, bukannya yang satu menunjukkan Petrus dan yang lain menunjukkan Kristus atau pengakuan iman Petrus.

d.   Seandainya yang dimaksud "batu karang ini" adalah Kristus, maka perkataan "Engkau adalah Petrus", sama sekali tidak ada arti.

e.   Dalam bahasa Yunani, biasanya kata pengganti "ini" (outos) berkaitan dengan kata precedent yang terdekat. Dalam Matius 16:18, "Petros" (Petrus) adalah precedent yang terdekat dengan "Batu karang ini." Dengan lain kata, "batu karang" yang dimaksud oleh Tuhan Petrus.

f.    Pada hari Pentakosta (Kis 2:1-47), Petrus dipenuhi oleh Roh Kudus dan bersaksi bagi Tuhan Yesus, di mana 3000 orang telah bertobat dan dibaptis, sehingga gereja yang pertama berdiri di Yerusalem. Bukankah hal ini sesuai dengan nubuat Tuhan Yesus bahwa "di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku."

g.   Dalam Efesus 2:20 dikatakan bahwa orang Kristen merupakan bahan bangunan yang dibangun di atas "dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru." Para sarjana Teologi berpendapat bahwa di dalam bangunan orang Timur, "batu penjuru" itu lebih penting daripada dasar atau fondasinya, bahkan dasar suatu bangunan harus bersandar pada batu penjurunya. Kristus adalah batu penjuru, Ia adalah pusat dan pokok kaidah kepercayaan agama Kristen, sedangkan para rasul yang diutus oleh Tuhan untuk memberitakan Injil dan mendirikan gereja merupakan dasar atau "sokoguru jemaat" (Gal 2:9).

h.   Wahyu 21:14 mengatakan bahwa tembok kota Yerusalem baru itu "mempunyai 12 'batu besar' (bahasa aslinya: themelios, sama dengan 'dasar' dalam /TB #1Korintus 3:11*) dan di atasnya tertulis kedua belas nama rasul Anak domba itu."

Walaupun pendapat "Petrus sebagai batu karang" juga disetujui oleh gereja Roma Katolik, namun mereka mempunyai interpretasi yang berbeda dengan apa yang telah kita uraikan.

Mereka berpendapat bahwa Petrus mewarisi "Hak Kepemimpinan" gereja dan selanjutnya hak tersebut diwariskan kepada para Paus. Dengan lain kata mereka menganggap bahwa Petrus adalah Paus yang pertama, sedangkan kita berpendapat bahwa bukan Petrus seorang diri yang menjadi dasar jemaat, melainkan Petrus beserta para rasul yang merupakan pengantar dan dasar berdirinya jemaat yang "kudus dan am."

Kesimpulan

Kalau kita membandingkan Matius 16:18, Efesus 2:20, maka dengan jelas kita boleh mengambil kesimpulan sebagai berikut:

Petrus beserta para rasul adalah dasar jemaat yang didirikan oleh Tuhan Yesus, di mana pemberitaan tentang pelayanan para rasul berdasarkan Kristus dan ajaran-Nya. Pendapat ini sesuai dengan keseluruhan ajaran Alkitab serta implikasinya. Hanya ajaran para rasul yang menjadi pedoman kita untuk mendirikan gereja, dan bukan Paus, bukan juga Joseph Smith, bukan Charles Russel, bukan Mary Baker Eddy, dan bukan pula Sun Myung Moon.

(sabda)

Mengapa Tuhan memilih bangsa Israel sebagai umat pilihan-Nya?



Menghadapi kegawatan Timur Tengah, negara-negara Islam seperti Iraq, Syria, Libia, Jordan dan PLO terus berusaha menjatuhkan bangsa Israel. Memang sejak tahun 1945 Israel timbul sebagai suatu negara di antara negara-negara yang selalu menjadi fokus perhatian dunia. Persengketaan di Timur Tengah selalu berkaitan dengan Israel.

Kalau kita tinjau dari sudut kebenaran Alkitab, Israel mempunyai peranan yang penting dalam pergolakan sejarah manusia, sebab mereka adalah kaum pilihan Allah. Semua peristiwa penting yang terjadi dalam negara Israel telah dinubuatkan oleh para nabi, di antaranya adalah Yehezkiel 36:24 yang berbunyi: "Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu."

Banyak orang bertanya: "Mengapa Tuhan memilih orang Yahudi atau Israel sebagai kaum pilihan-Nya? Apakah kebaikan orang Yahudi sehingga Tuhan memilih mereka?" Karena hal-hal inilah banyak iri hati dan kebencian telah dilontarkan kepada orang Yahudi, di antaranya adalah anti Semitisme pada abad pertengahan dan juga gerekan Nazi di Jerman. Belakangan ini anti Semitisme mulai bergolak lagi dengan tujuan untuk melenyapkan orang Yahudi yang tersebar di selruh dunia.

Kembali pada pertanyaan tadi, mengapa Tuhan memilih bangsa Israel? Tuhan memilih mereka bukan karena mereka lebih baik daripada bangsa lain, seperti apa yang telah dikatakan oleh Musa: "Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun kiga, maka Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu - bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?" (Ul 7:7). Ada beberapa faktor yang menyebabkan Tuhan memilih umat-Nya:

1.   Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia bermusuhan dengan Allah dan upah dosa adalah maut.

2.   Dalam peristiwa menara Babel, manusia telah bersatu untuk melawan Tuhan. Akibatnya Tuhan turun ke atas bumi untuk mengacaubaluakan bahasa manusia sehingga manusia tersebar dan terjadilah bangsa-bangsa yang berbeda di atas permukaan bumi.

3.   Karena Allah mengasihi umat manusia, maka Ia menyediakan suatu jalan keselamatan, yaitu Putra-Nya yang tunggal. Yesus Kristus harus datang ke dunia. Ia harus dilahirkan melalui suatu bangsa dan negara tertentu.

4.   Bangsa dan negara tersebut harus dipersiapkan untuk menerima wahyu Allah, sehingga kelahiran Juru Selamat menjadi suatu realitas dalam sejarah dalam sejarah manusia.

5.   Bangsa-bangsa yang merupakan akibat hukuman Allah di Babel, tidak layak menggenapi tujuan Allah untuk penyelamatan dunia. Sebab itu Allah demi rahmat-Nya telah memilih seorang yang bernama Abraham sebagai saluran berkat-Nya. Dari Abraham akan timbul suatu bangsa dan oleh Abraham semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej 12:3)

Karena iman dan kesetiaan Abraham, Allah telah meyakinkan suatu perjanjian yang tidak bersyarat (unconditional covenant) kepada Abraham bahwa Kristus akan dilahirkan oleh keturunan Abraham (Gal 3:16). Keturunan Abraham adalah bangsa Israel.

Bukan saja Allah berjanji tentang kelahiran Juru Selamat melalui keturunan Abraham, yaitu bangsa Israel, Allah pun menjanjikan tanah perjanjian (the Promissed Land) sebagai pusaka mereka untuk selama-lamanya. "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat"
(Kej 15:18). Perjanjian ini diulang oleh Tuhan kepada Ishak, anak Abraham (Kej 26:3-5). Allah juga mengutarakan lagi kepada Yakub, cucu Abraham (Kej 28:13-15; 35:10-12). Semuanya ini Allah janjikan kepada umat Israel tanpa syarat.

Memang sejarah membuktikan bahwa karena kemurtadan bani Israel, mereka telah dihajar dan dihukum oleh Tuhan, bahkan mereka harus meninggalkan tanah perjanjian dan disebarkan ke seluruh muka bumi. Dosa terbesar yang pernah mereka lakukan adalah menolak Kristus setelah menyalibkan-Nya. Untuk hal tersebut, Yesus menubuatkan hukuman atas bangsa Israel: "Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu" (Luk 21:23-24)

Walaupun demikian, Allah tidak melupakan janji-Nya yang tidak bersyarat kepada Abrahan (Rom 11:1-2). Dengan hikmat-Nya Allah telah mempergunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan bangsa-bangsa lain (Kis 15:14). Sampai pada hari ini, bangsa Israel telah menduduki sebagian besar dari tanah perjanjian dan makin banyak orang Yahudi yang berpaling kepada Tuhan, menerima Yesus sebagai Messias mereka. Kami yakin pada hari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, bangsa Israel secara kolektif akan bertobat dan beriman kepada Tuhan Yesus, seperti apa yang dikatakan oleh Paulus: "Dengan demikian seluruh Israel akan diselamatkan" (Rom 11:26).

Timur Tengah selalu dalam keadaan gawat. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di sana. Kalau peperangan timbul, pastilah Israel menjadi target penyerbuan Iraq beserta sekutu-sekutunya. Memang pemerintah Israel sudah siap siaga dan berjanji akan membalas serangan musuh dengan sepuluh lipat ganda.Namun kami mengetahui bahwa nasib bangsa Israel ada di tangan Tuhan, janji yang tidak bersyarat kepada Abraham itu meyakinkan bahwa Israel tidak mungkin dikalahkan dan diusir ke luar dari Palestina. Tuhan pasti memelihara umat pilihan-Nya (Yer 31:37). Baiklah kita "wait and see", mengamati bagaimana Tuhan bekerja di Timur Tengah.

(sabda)

Mengapa Gereja Beribadah Pada Hari Minggu?



Banyak umat Kristen bertanya: "Mengapa gereja beribadah pada hari Minggu? Bukankah hal ini bertentangan dengan hukum Tuhan didalam Perjanjian Lama?" Memang hal ini bukan suatu isu yang baru, namun banyak orang Kristen yang masih kabur dengan makna hari Minggu yang berkaitan dengan KEBANGKITAN Tuhan Yesus. Marilah hal ini kita bahas bersama:

Di dalam Perjanjian Lama

Hari Sabat adalah hari yang ketujuh menurut kalender kita adalah hari Sabtu. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama tercantum hukum-hukum yang ditetapkan oleh Tuhan tentang hari Sabat sebagai berikut :

1.   Hari Sabat dikuduskan oleh Tuhan: "Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu." (Kej 2:3)

2.   Tuhan memerintahkan umat Israel untuk memegang hari Sabat: "... enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat ..." (Kel 20:8-11). Hukum ini diberikan untuk memperingati pekerjaan penciptaan Tuhan yang selesai pada hari ketujuh.

3.   Sekali lagi Tuhan memerintah umat Israel untuk merayakan hari Sabat: "Tetaplah ingat dan kuduskan hari Sabat ... Sebab haruslah kau ingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau di bawa ke luar dari sana oleh Tuhan ..." (Ul 5:12-15). Hukum ini diberikan bukan untuk memperingati penciptaan Tuhan, tetapi untuk memperingati anugerah Tuhan yang telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di tanah Mesir. Umat Israel yang diperbudaki di tanah Mesir harus bekerja seminggu tujuh hari tanpa istirahat, maka setelah Tuhan menyelamatkan mereka, mereka diberi istirahat pada hari Sabat.

Di sini kita boleh mengambil kesimpulan bahwa dalam Kitab
Keluaran, merayakan hari Sabat merupakan suatu upacara keagamaan yang
harus dijalankan oleh umat Israel. Tetapi dalam kitab ulangan makna
hari Sabat sudah berubah, bukan untuk memperingati karya penciptaan
Tuhan, tetapi untuk memperingati pelepasan dari perbudakan. Mereka
tidak perlu bekerja seminggu tujuh hari, mereka boleh menikmati
liburan pada hari yang ketujuh. Jadi hari Sabat mengandung makna
perikemanusiaan, bukan melulu syarat agama.

Di dalam Perjanjian Baru

1.   Tuhan Yesus berkata: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh 5:17). Ini berarti bahwa kita tidak lagi memegang hari Sabat untuk memperingati selesainya karya ciptaan Tuhan.

2.   Pada suatu hari orang-orang Farisi mengecam Tuhan Yesus, sebab murid-murid-Nya memetik bulir gandum pada hari Sabat. Sebab itu Yesus mengutarakan ajaran yang penting tentang hari Sabat: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Jadi Anak manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat" (Mar 2:27). Di sini Tuhan Yesus menghubungkan hari Sabat dengan perikemanusiaan (Mar 2:25-26).

3.   Rasul Petrus berkata: "... mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipukul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?" (Kis 15:10). Perkataan ini menyangkut keadaan orang Israel pada waktu itu yang menambahkan 1521 larangan pada hari Sabat. Misalnya orang dilarang mengikat tali pada hari Sabat, sebab hal itu berarti ia bekerja. Orang dilarang membawa pena, sebab hal itu berarti menggotong beban. Maka di hadapan sidang di Yerusalem, Petrus telah mengecam formalitas orang Israel pada hari Sabat.

4.   Setiap hukum di dalam Sepuluh Hukum Musa disebutkan di dalam surat-surat Perjanjian Baru kecuali hukum yang keempat, yaitu tentang hari Sabat. di dalam Perjanjian Baru, orang Kristen tidak pernah dinasihati untuk memegang hari Sabat. Bahkan Paulus memperingati orang-orang Kristen yang secara formalitas memegang hari Sabat (Kol 2:16-17).

5.   Sebaliknya orang-orang Kristen pada abad permulaan berhimpun pada hari Minggu untuk berbakti kepada Tuhan:

a.   Tuhan Yesus bangkit pada hari Minggu (Mat 28:1) dan para murid berhimpun bersama pada hari Minggu (Yoh 20:19,26).

b.   "Pada hari pertama dalam minggu itu (hari Minggu), ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, ..." (Kis 20:7). Orang Kristen berhimpun, mengadakan perjamuan kudus dan mendengarkan khotbah pada hari Minggu.

c.   "Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu, hendaklah kamu masing-masing -- sesuai dengan apa yang kamu peroleh -- menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan kalau aku datang" (1Kor 16:2). Orang Kristen memberi persembahan pada hari Minggu.

Nubuat tentang hari Minggu sebagai Hari Tuhan

"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah HARI yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya" (Mazm 118:22-24).

Mazmur 118:22a berbicara tentang KEMATIAN Tuhan Yesus, sedangkan ayat 22b tentang KEBANGKITAN Tuhan. Maka ayat ini pernah dikutip oleh Petrus di dalam khotbahnya pada hari Pentakosta untuk menerangkan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Kis 2:10-11).
Sedangkan ayat 24 merupakan nubuat tentang ibadah orang Kristen pada hari Minggu untuk memperingati kebangkitan Tuhan Yesus.

Kesimpulan

Gereja di dalam zaman Perjanjian Baru tidak pernah diperintahkan untuk memegang hari Sabat. Sebaliknya, untuk memperingati hari KEBANGKITAN Tuhan, sejak abad pertama orang-orang Kristen beribadah kepada Tuhan pada hari Minggu.

(sabda)

Kue-Kue Unik dan Kreatif

Sangat kreatif pembuat kue-kue ini. Dibuat sedemikian rupa sekali pun berbentuk seperti mainan anak-anak, namun dibuat dengan detail yang cukup rumit. Pemilihan warna yang kontras namun tidak norak, membuat kue-kue itu sayang jika hanya dimakan begitu saja.





















Kumis Nyentrik dan Unik


Entah bagaimana cara merawatnya, yang jelas orang-orang ini begitu mencintai kumisnya sehingga dibuat semenarik mungkin. Memang kelihatan aneh bagi yang baru melihatnya, namun tidak demikian dengan pemilik kumis nyentrik ini. Mereka sangat bangga dengan kumisnya ............ mau ikuti jejak mereka?








Tali Tambang



Mazmur 39:5-8


Suatu pagi, saya mendampingi teman sekampus yang memakamkan ibunya. Sorenya, seorang teman lain menikah. Hidup terkadang memiliki jalan yang begitu unik dalam membelitkan suka dan duka. Satu kali Nobita—sebuah karakter kartun Jepang—meminta pada Doraemon —sahabatnya—agar ia bisa selalu beruntung dalam hidup. Namun, Doraemon mengangkat sebuah tali tambang dan menunjukkan bahwa tali yang kokoh itu terdiri dari dua helai tali yang saling melilit. Dan ia mengibaratkan dua tali itu sebagai kebahagiaan dan kesedihan hidup yang terangkai menjadi satu.

Kesedihan akan diganti dengan kegembiraan, sebaliknya kegembiraan juga tidak akan berlangsung terus-menerus karena akan ada kesedihan di depan sana. Hidup tidak bisa menawarkan kepastian pada manusia. Sekokoh dan semapan apa pun kita membangun hidup, semua itu fana dan bisa runtuh dalam sekejap. Dan akhirnya, hal yang paling pasti dalam hidup ini adalah betapa fananya hidup manusia.

Pemazmur tampaknya sangat memahami fakta ini. Ketika ia merenungi betapa fananya hidup di dunia, maka ia menyadari betapa banyaknya hal sia-sia yang diributkan manusia (ayat 7). Satu harapan paling kokoh yang kita miliki hanyalah pada Tuhan. Rasa percaya kita kepada-Nya tidak akan pernah sia-sia. Dari titik kesadaran ini, alangkah baiknya jika kita mengurangi perhatian pada hal-hal fana yang kerap dipermasalahkan dengan sesama manusia. Tata ulang prioritas hidup kita. Dan biarlah kita semakin giat melakukan hal-hal penting yang akan mempersiapkan kita menjelang kehidupan kekal yang tak mengenal kefanaan

TUHANLAH SATU-SATUNYA YANG BISA KITA PERCAYA DI TENGAH KETIDAKPASTIAN HIDUP